Showing posts with label Ada Cinta Dibalik Rasa. Show all posts
Showing posts with label Ada Cinta Dibalik Rasa. Show all posts

Thursday, January 25, 2024

Ada Cinta Dibalik Rasa (04)

Kejora Pagi


Thursday, January 25, 2024

ADA CINTA DIBALIK RASA 04


(Tien Kumalasari)



Jarak mereka memang tak terlalu jauh, rupanya laki-laki yang dimaksud tidak mendengar. Anjani mendekat, ia juga tak begitu yakin, benarkah dia Jatmiko, atau bukan. Hal itu bisa terbukti, kalau sudah saling mendekat dan berbicara. Sayangnya saat itu di pom itu sedang ramai, berderet mobil mengantri.


“Mikooo !”


Tapi laki-laki itu sudah masuk ke dalam mobil dan memacunya karena mobil dibelakangnya sudah membunyikan klakson.


“Mikooo!”


Anjani menghela napas. Mungkin dia tidak mendengar, atau memang dia bukan Jatmiko. Dulu, sahabat kecilnya itu adalah seorang anak yatim piatu, miskin. Tapi yang dilihatnya tadi mengendarai mobil. Anjani mengeluh. Ia terlalu memikirkan Jatmiko, mengira laki-laki yang dilihatnya adalah Jatmino. Ia masih termangu diantara deretan mobil, ketika tiba-tiba seseorang menarik lengannya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Anjani terkejut. Usman menariknya menjauh. Mobilnya sudah keluar dari antrean, mepet diujung jalan.


“Apa yang kamu lakukan?” ulangnya, karena Anjani tak menjawab.


“Saya … seperti melihat teman,” katanya datar. Pikirannya masih ke arah laki-laki tampan itu. Sebagian besar perkiraannya adalah Jatmiko, tapi ada juga perasaan ragu. Tiba-tiba Anjani merasa sedih. Mungkinkah dia bisa ketemu teman masa kecilnya itu? Di mana dia harus mencarinya?


“Apa dia laki-laki?” tanya Usman ketika keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


Anjani menatap Usman yang mulai menjalankan mobilnya.


“Memangnya kenapa, kalau laki-laki?” jawab Anjani yang bermaksud membuat Usman kesal.


“Kamu tidak bisa lagi berhubungan dengan laki-laki, karena kamu adalah milikku.”


Anjani tak menjawab. Belum jadi istrinya sudah mengekang. Kelak, apakah dia akan mengeram dirinya di dalam kamar dan tidak boleh melihat dunia luar?


“Apa kamu tahu, aku ini pecemburu. Aku tidak mau orang lain menyukaimu.”


“Teman laki-laki saya banyak. Bekas teman kantor, bekas teman kuliah. Memangnya salah, memiliki banyak teman?”


“Tapi kamu tidak boleh lebih dari berteman. Aku tidak suka itu. Kalau kamu ingin bepergian, kamu harus bersama aku. Atau bersama orang yang aku percaya. Tidak boleh sendirian.”


Anjani tetap membisu. Tak ada gunanya berdebat dengan laki-laki egois yang mengira bahwa harta yang dimilikinya bisa membuat apa yang diinginkannya selalu kesampaian.


Anjani merasa tak berdaya. Dia menjadi alat pembayaran demi ayahnya, dan pasti juga demi ibu tirinya.  Bukankah dia juga ikut menikmati uang yang dikucurkan Usman agar maksudnya kesampaian? Anjani sangat cantik. Usman belum pernah terpikat kepada seorang gadis seperti yang dirasakannya sekarang. Walau usia tak lagi muda, ia tak ingin melepaskannya. Ia benar-benar jatuh hati dan ingin menguasainya, dan ia memiliki senjatanya.


“Kamu ingin ke mana?” tanyanya sambil menatap ke arah Anjani, yang diam sambil memandang ke arah samping mobil.


“Saya tidak ingin ke mana-mana,” jawabnya dingin.


“Jangan begitu, katakan apa yang kamu inginkan. Aku akan mewujudkannya untuk kamu.”


Anjani tak menjawab.


“Makan dulu ya?”


“Terserah.”


Meskipun agak kesal, Usman masih berusaha tersenyum. Bagaimanapun Anjani ingin menolaknya, ia tak akan bisa melepaskan diri darinya. Ia sudah menguasainya, dan tahu di mana titik kelemahannya, yaitu pada kesehatan ayahnya.


Lalu Usman memasukkan mobilnya ke halaman sebuah restoran. Malam belum begitu larut. Rumah makan itu tak begitu ramai. Usman berusaha menggandeng tangan Anjani, tapi Anjani mengibaskannya. Usman tidak berusaha memaksanya. Ia harus bersikap baik, agar Anjani mengerti betapa sabarnya dia, sehingga semakin lama ia bisa merebut hatinya.


Usman memilih duduk di sudut ruangan, terpisah dari para pelanggan lainnya.


“Mau makan apa?”


“Terserah.”


“Anjani, tolong bersikap manislah sedikit saja, masa kamu tak ingin menyenangkan hati calon suami kamu ini?” tanyanya sambil menuliskan pesanan. Ia memesan apa yang dia inginkan, dan berharap Anjani menyukainya, karena ia tak mau memesannya sendiri.


Anjani merasa muak. Bersikap manis untuk menyenangkan dia? Sang calon suami? Kalau bisa ia ingin kabur darinya. Tapi selalu saja ada yang menelikung kaki tangannya sehingga ia tak mampu bergerak.


“Aku sudah pesan ini, bagaimana?”


Anjani tak sedikitpun melirik ke arah tulisan pesanan yang dibuat Usman.


“Saya sudah bilang terserah.”


“Ya sudah, ada beberapa macam yang aku pesan, kamu boleh memilihnya nanti.”


Usman menyerahkan pesanannya kepada pelayan yang dipanggilnya.


“Aku harap kamu bisa menerima aku dengan sepenuh hati. Memang, aku agak lebih tua, tapi aku bisa melakukan banyak hal yang dilakukan anak-anak muda. Aku banyak uang dan bisa memanjakan kamu. Dan aku juga perkasa di atas ranjang,” katanya sambil tersenyum. Tapi senyuman itu membuatnya jijik.


Ia merasa perutnya mual. Tapi ia tak ingin mengatakannya. Nanti dia bilang soal hamil seperti tadi siang. Hoeeekk..


“Dan aku ingin secepatnya kita menikah.”


“Apaa?” kali ini Anjani berteriak.


“Kenapa, Jani? Bukankah aku memintamu kepada ibumu untuk aku jadikan istriku? Kalau hanya pergi berduaan, jalan-jalan, mana aku tahan? Kamu harus ingat, beberapa tahun aku puasa lho. Kamu mengerti kan maksudku?”


Tiba-tiba Anjani merasa benar-benar ingin muntah. Ia berdiri dan bergegas mencari toilet.


“Ke mana?”


“Toilet,” jawab Anjani yang terus saja melangkah.


Di dalam kamar mandi, Anjani memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia tak bisa membayangkan benar-benar menjadi istri bandot itu, melayaninya dan … tidak, itu tak boleh terjadi.


Anjani terengah-engah setelahnya. Lalu ia terkejut ketika pintu digedor dari luar.


“Anjani. Anjani!”


Anjani mengusap air matanya yang sempat mengalir. Ia mengusapnya dengan tissue yang ada di sana.


“Anjanii!”


“Sebentar,” akhirnya Anjani menjawab karena tak ingin Usman terus menerus menggedor pintu dan menarik perhatian banyak orang.


“Kamu tak apa-apa?”


Anjani membuka pintu, lalu terus saja berjalan ke arah meja dimana tadi mereka duduk, tanpa mempedulikan Usman yang berdiri di luar pintu kamar mandi.


“Kamu kenapa?”

”Tidak apa-apa. Anehkah orang pergi ke kamar mandi?” jawabnya pelan tapi tandas. Menunjukkan bahwa ia tak senang menerima perhatiannya,


“Kamu terlalu lama, aku khawatir.”


Anjani duduk, dan melihat banyak makanan terhidang di atas meja. Rasa mual kembali mengganggunya. Dan untunglah ada jus jeruk diletakkan di dekatnya. Ia meraih gelasnya, dan menyedotnya pelan.


“Ayo kita makan.”


Anjani meraih piring dan mengambil makanan sekenanya. Ia ingin Usman segera membawanya pulang. Kalau dia tidak segera makan, maka akan semakin lama dia akan berada di situ.


“Ini udang asam manis. Enak, cobalah,” Usman langsung saja menyendokkannya dan meletakkannya di piring Anjani


“Makan yang banyak. Nggak bagus pengantin badannya kurus.”


Anjani merinding. Ia menyendok mie yang diambilnya, memasukkannya ke mulut, dan mengunyahnya pelan.


“Saya tidak ingin sekarang.”


“Apa maksudmu?”


“Bagaimana saya bisa melakukannya sementara ayah saya masih sakit? Bulan depan operasi itu dilakukan, jadi nanti saja kalau bapak sudah sehat.”


“Apa tidak terlalu lama?”


“Saya bersedia melakukannya demi bapak, jadi saya maunya kalau bapak sudah selesai operasi dan dinyatakan sembuh.”


Anjani mengatakannya sambil menghabiskan mie di piringnya, lalu meraih tissue dan meneguk jus jeruknya.


Usman mendesah kesal.


“Masih lama ….” keluhnya.


“Saya sudah selesai,” katanya tak peduli Usman menatapnya dengan tatapan kesal.


Tapi Usman tahu, memaksanya akan berakibat buruk, jadi satu-satunya jalan adalah menuruti kemauannya. Anjani gadis yang susah ditundukkan, itu membuatnya semakin penasaran dan semakin menginginkannya. Tapi dia harus bersabar. Nanti kalau saatnya tiba, apa yang bisa dilakukan Anjani kecuali menyerah pasrah?


“Makanan masih begini banyak, kamu tak ingin mencobanya? Masa hanya makan mie saja dan sedikit udang yang tadi aku ambilkan?”


“Saya tidak biasa makan banyak.”


“Baiklah, ini semua bisa dibungkus, nanti untuk oleh-oleh. Ibumu pasti suka,” kata Usman berusaha sabar, sementara hatinya sudah menggebu-gebu.


“Setelah operasi ayahmu berhasil, kamu tidak boleh mencari alasan untuk mundur lagi. Aku turuti keinginan kamu, tapi awas saja kalau kamu ingkar. Aku bisa melakukan apa saja. Ingat itu,” kalimat pelan tapi berisi ancaman itu dilontarkan Usman ketika mereka sudah memasuki mobil.


Anjani tak menjawab.


“Jalan ke mal ya? Aku ingin membelikan sesuatu untuk kamu.”


“Sebaiknya tidak usah. Saya harus ke rumah sakit untuk menemani bapak.”


Usman menarik napas panjang, menekan segala kekesalan karena Anjani sama sekali tak tampak tertarik dengan semua tawarannya.


***


 Karena keinginan Anjani, Usman mengantarkan Anjani ke rumah sakit. Ia harus menemani ayahnya. Usman mengantarkannya sampai ke ruang rawat inap sang ‘calon mertua’, dan bersikap sangat hormat padanya.


“Pak, saya mengantarkan Anjani,” katanya sambil mencium tangan pak Marjono dengan penuh hormat.


“Terima kasih, pak Usman. Merepotkan saja."


“Tidak apa-apa Pak, sudah malam, kasihan kalau Anjani berangkat sendiri ke rumah sakit.”


Usman hanya sebentar, kemudian dia berlalu.


Anjani meletakkan bungkusan roti dan buah di atas meja. Pemberian Usman yang tadi sudah ditolaknya, tapi nekat dibelikannya.


“Itu bungkusan apa?”


“Roti, Bapak mau?”


“Nanti saja, bapak sudah kenyang.”


“Bagaimana perasaan Bapak?”


“Sebenarnya baik, hanya kadang-kadang saja terasa sesak. Tapi aku sudah bisa tidur nyenyak.”


“Syukurlah.”


“Mengapa wajahmu kusut?”


Anjani tersenyum lembut. Ia tak ingin ayahnya melihat bahwa dia menjalani semuanya dengan terpaksa. Sang ayah tahu kalau Usman ingin memperistri Anjani. Tapi dia tidak tahu bahwa Anjani bersedia menerima lamarannya demi kesehatan ayahnya, dimana keluarganya tak akan mampu membiayai sampai sejauh itu.


“Jani, benarkah kamu menyukai pak Usman? Apa dia tidak terlalu tua untuk kamu? Bukankah usianya sudah seumur bapak ini?”


Anjani menekan perasaan sedihnya, mencoba tersenyum semanis mungkin, agar ayahnya tidak tertekan kalau tahu bahwa dirinya berkorban demi kesehatannya.


“Jawablah, jangan hanya tersenyum-senyum begitu.”


“Bapak tidak perlu khawatir. Tentu saja Anjani suka. Biarpun dia setua Bapak, tapi hatinya baik, dan sangat perhatian. Bukan hanya kepada Jani, tapi juga kepada Bapak, bukan?”


“Iya aku tahu. Ibumu bilang, kalau aku mendapatkan perawatan terbaik karena dia. Aku merasa lebih sehat.”


“Jani senang mendengarnya,” kata Jani sambil mengelus tangan ayahnya.


“Kapan aku dioperasi?”


“Kata dokter, masih bulan depan, jadi kira-kira tiga mingguan lagi.”


Sambil mengatakan itu, tiba-tiba dia teringat janjinya kepada Usman bahwa dia akan bersedia dinikahi olehnya setelah operasi bapaknya. Dan segera sehat adalah harapannya. Anjani merasa sangat sedih.


“Sudah malam, Bapak tidur ya, Jani akan ganti baju dulu.”


“Kamu sudah makan?”


“Sudah. Bapak sudah kan?


“Sudah. Para perawat melayani bapak dengan baik.”


Anjani mengangguk. Itu juga karena Usman yang berpesan agar ayahnya dilayani dengan baik. Rasa syukur dan sedih bercampur aduk di dalam hatinya. Kemudian ia membetulkan letak selimut ayahnya, dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya yang beberapa diantaranya memang dia bawa ke rumah sakit, karena setiap malam dia tidur di sana.


***


Anjani merebahkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Kamar itu bukan kamar yang murah. Entah sudah berapa ratus juta dikeluarkan oleh Usman ketika ayahnya sering masuk ke rumah sakit, sementara Usman selalu memilihkan kamar yang bagus dan perawatan terbaik untuknya. Tadinya Anjani mengira bahwa Usman adalah seorang pengusaha yang baik hati, karena rela mengeluarkan uang begitu banyak untuk orang yang belum lama dikenalnya. Tapi rupanya Usman berbuat begitu karena sudah ada kesepakatan dengan ibu tirinya. Bukan main sang ibu tiri itu. Dengan suka cita mendapatkan kemudahan dalam perawatan sang suami, dengan diam-diam menjual dirinya. Belum lama dia mengetahuinya, ketika kemudian merasa bahwa sikap Usman berbeda. Ia bahkan memintanya agar berhenti bekerja dengan alasan harus sepenuhnya merawat ayahnya, sedangkan semua kebutuhan, dialah yang akan mencukupinya. Semula ia menolak, tapi sang ibu memaksanya menuruti apa kata Usman karena Usman sudah berjasa besar kepada keluarganya.


“Ya Allah, akhirnya hamba harus rela melakukannya. Demi bapak,” lirihnya dengan linangan air mata.


Tak lama kemudian dia terlelap, dan bermimpi tentang Jatmiko yang diberinya roti saat sedang duduk di bawah pohon sambil memegang setumpuk koran.


***


Hari itu Wijan sedang berada di ruang kerja sang ayah, karena ada pembicaraan penting yang harus dibicarakan. Tapi sang ayah sedang bertelpon dengan asyiknya, bahkan sambil tertawa-tawa.


“Ya ampun, benarkah? Saya senang mendengar bahwa pak Usman akan menikah lagi. Memang tidak baik menduda berlama-lama…. saya? Ah, jangan membandingkannya dengan saya. Saya lebih suka begini saja, karena selalu dekat dengan anak-anak saya…. jadi … kapan pak Usman mau menikah? Pasti saya akan mendapat undangannya juga kan? Baiklah. Oh ya? Masih gadis? Cantik? Alangkah beruntungnya pak Usman, baiklah, semoga lancar nantinya, dan bahagia pastinya. Ya, besok sudah akan disiapkan surat-suratnya. Terima kasih, pak Usman.”


Pembicaraan itu berhenti. Raharjo meletakkan ponselnya sambil masih tersenyum-senyum.


“Ada apa dengan pak Usman?”


“Tadinya dia bicara tentang kerja sama kita, lalu dia bilang bahwa dia akan menikah lagi.”


“Bukankah pak Usman sudah seumur Bapak?”


“Ya, tapi dia beruntung, mendapat calon istri seorang gadis yang katanya sangat cantik.”


***


Besok lagi ya.


 


at January 25, 2024

Ada Cinta Dibalik Rasa (03)

 Kejora Pagi


Wednesday, January 24, 2024

ADA CINTA DIBALIK RASA 03


(Tien Kumalasari)


Nilam heran melihat sang kakak mengenal Anjani, lalu diulangilah pertanyaannya.


“Mas kenal Anjani?”


“Aku kenal nama itu, tapi entahlah, apa dia yang dimaksud oleh teman baru kamu itu. Pokoknya namanya Anjani.”


“Mas tahu di mana rumahnya?”


“Kamu kok bersemangat sekali sih. Ingin supaya Jatmiko suka sama kamu?”


“Ih, mas Wijan kok gitu. Aku bersemangat, karena dia bilang aku mirip Anjani. Jadi aku ingin tahu, dia itu seperti apa?”


“Menurutku nggak mirip kok.”


“Nggak mirip? Kok dia nekat ya? Tapi aku penasaran, ingin ketemu dia seperti apa.”


“Ya sudah, kerjakan dulu itu, kamu ngomong saja … kapan nanti selesainya?”


“Habis aku menasaran sekali.”


“Tenang saja, dia nggak mirip kamu. Mungkin … mata kamu saja yang mirip. Bulat, menunjukkan kalau kamu tuh galak.”


Nilam menjerit kesal, dan mulutnya mengerucut ketika membuka laptopnya untuk mulai bekerja.


"Jelek ya, kalau bekerja sambil merengut begitu,” goda Wijan.


“Biarin.”


“Kalau kamu bertanya di mana rumahnya, aku nggak tahu,” tak urung Wijan melanjutkan perkataannya tentang Anjani.


“Kok nggak tahu sih?”


“Dia hanya adik kelas aku, setelah aku lulus, nggak tahu lagi dia lanjut kemana. Pastinya sekarang dia sudah selesai, dan entahlah, mungkin sudah menikah.”


“Yaaah, ternyata nggak tahu di mana dia?”


“Memang nggak tahu. Kenapa aku harus tahu? Dia bukan siapa-siapa aku,” kata Wijan enteng.


“Mas punya fotonya nggak?”


“Ya enggak lah, masa aku motoin seseorang yang aku nggak begitu kenal.”


“Oo, nggak begitu kenal?”


“Dia setahun dibawah aku, dan beda jurusan, jadi yah … hanya kenal sekilas, dan jarang bertemu.”


Nilam kecewa. Ternyata Wijan tak begitu tahu tentang gadis bernama Anjani itu. Kemudian Nilam mulai mengerjakan apa yang ditugaskan Wijan kepadanya, walau bayangan tentang Jatmiko yang mengira dia adalah Anjani masih terus mengganggunya.


Rasa penasaran tentang bagaimana sebenarnya wajah Anjani membuatnya terus memikirkannya.


“Aku keruang bapak sebentar, bekerja yang bagus, jangan sambil melamun,” kata Wijan sambil mengacak kepala Nilam, kemudian berlalu.


***


Di sebuah rumah makan, seorang gadis cantik sedang duduk dihadapan seorang laki-laki, yang tampaknya agak lebih tua dari dirinya. Hal itu terlihat pada rambutnya beberapa helai memutih, walau belum putih sepenuhnya.


“Kamu sudah akan menjadi istriku, jadi jangan menyesal kalau aku menyuruhmu berhenti bekerja,” kata laki-laki itu sambil menghirup jus alpukat yang dipesannya.


“Seharusnya Bapak tahu, bahwa saya tidak suka tentang perjodohan ini,” kata si gadis dengan wajah gelap.


“Anjani, aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan ayahmu yang sakit-sakitan. Sebentar lagi dia harus operasi jantung karena hanya itu yang bisa memperpanjang nyawanya. Semua itu aku sudah menyiapkan biayanya. Lalu apa balas budi kamu atas semua yang aku lakukan untuk keluarga kamu? Ibu tiri kamu sudah setuju. Dia tak akan mampu mencari biaya yang begitu besar untuk ayahmu. Apa kamu melupakannya?”


“Saya harap pak Usman mengerti. Saya akan membayar semuanya dengan saya bekerja. Akan saya berikan semua gaji saya untuk mencicil semua yang sudah Bapak keluarkan untuk membantu pengobatan  ayah saya.”


Laki-laki bernama Usman itu tertawa keras, sampai pundaknya berguncang-guncang. Anjani tak sedikitpun menatapnya. Ia memandang ke arah lain dengan wajah tak berubah.


“Kamu akan mencicil dengan gajimu? Berapa banyak gaji kamu dan berapa lama kamu akan bisa melunasinya?”


“Yang penting saya akan bisa membayarnya. Saya akan bekerja keras untuk itu.”


“Mengapa kamu begitu bodoh? Bekerja keras untuk membayar hutang itu berat. Kasihan wajah cantik kamu yang pasti akan menjadi kusut dan tampak semakin tua dari usia kamu sebenarnya,”


“Tolong mengertilah,” Anjani menghiba.


“Tidak. Aku tidak akan mengerti. Pembicaraan tentang perjodohan ini sudah bulat dan disepakati oleh keluarga kamu.”


“Keluarga saya yang mana?”


“Ibu tiri kamu yang mata duitan itu. Dia sudah menerima banyak uang dari aku, yang alasannya adalah untuk pengobatan ayahmu. Jadi tidak bisa ada penolakan dari kamu.”


Mata Anjani berkaca-kaca. Sejak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang janda cantik bernama Estiana, hidupnya tidak pernah tenang. Memang dia bukan ibu tiri yang kejam dengan suka menyiksa fisiknya, tapi dia selalu menuntut terlalu banyak. Ia harus menyerahkan sebagian besar gajinya kepada sang ibu tiri, dan hanya menyisakan sedikit untuk transportasi ke kantor.


Sang ibu tiri beralasan bahwa ayahnya sudah sakit-sakitan dan tidak memberi uang belanja yang cukup. Anjani sudah bersedia melakukannya, tapi sekarang sang ibu, seakan menjualnya kepada seorang juragan kaya bernama Usman, demi pembiayaan yang semakin besar untuk ayahnya yang terbaring di rumah sakit.


“Tolong mengertilah.”


“Mengerti tentang apa? Kamu yang seharusnya mengerti. Lagipula kalau kamu menjadi istri aku, hidupmu akan lebih nyaman. Kamu akan menjadi nyonya yang terhormat di rumah aku, karena aku akan memanjakanmu dan menyiapkan beberapa pembantu untuk melayani semua keperluan kamu. Aku hidup sendiri di rumah itu, karena anak gadisku tinggal di luar negri. Dia jarang pulang, dan aku yakin dia tak akan menolak keinginan ayahnya, karena aku memberinya kehidupan yang berkecukupan.”


Anjani terdiam. Sepiring beefsteak daging dengan sayuran segar tak sedikitpun dijamahnya, sementara Usman sudah menghabiskan bagiannya.


Anjani merasa sangat tertekan. Sepertinya ia tak punya pilihan lain, karena menolak keinginan Usman adalah ancaman bagi keselamatan sang ayah.


“Makanlah. Ini sangat lezat,” kata Usman lagi.


Selezat apapun makanan yang terhidang, kalau hatinya tidak senang, mana mungkin ia bisa melahapnya dengan nikmat.


“Aku tidak akan memaksamu, Anjani. Tapi kalau kamu menolaknya, kamu akan tahu sendiri akibatnya.”


Tidak memaksa, tapi melontarkan ancaman. Dan ancaman itu membuatnya takut. Barangkali kalau ancaman itu adalah pembunuhan atas dirinya, dia akan sanggup melakukannya. Tapi ini menyangkut nyawa ayahnya, karena Usmanlah yang membiayai pengobatan sang ayah di rumah sakit. Orang tua yang tinggal satu-satunya, dan amat dicintainya. Anjani merasa lemas. Tadi dia mengikuti ajakan Usman karena dipaksa oleh ibunya. Katanya agar lebih dekat, sebelum acara pernikahan itu digelar. Anjani  berharap akan bisa meluluhkan hati Usman agar mau membatalkan keinginannya untuk mengambilnya sebagai istri. Tapi ternyata Usman bersikeras untuk memperistrikannya.


Usman adalah laki-laki setengah tua, duda dengan satu anak perempuan. Istrinya meninggal karena suatu penyakit tiga tahun lalu. Ia tertarik pada Anjani ketika sedang berada di rumah sakit saat istrinya dirawat. Saat itu Anjani juga sedang menunggui ayahnya.


Dengan segala cara Usman berusaha untuk mengenal Anjani, padahal waktu itu sang istri sedang sekarat. Seperti pemilik mobil yang bannya rusak, merasa tidak bisa diperbaiki lalu sudah mengincar ban baru yang akan dipergunakannya sebagai serep ketika ban itu sudah benar-benar ambyar.


Pura-pura bodoh ketika itu, Usman mendekati Anjani dan menanyakan di mana letak apotek di rumah sakit itu. Anjani pun dengan suka rela menunjukkannya. Lalu Usman bertanya tentang keberadaannya di rumah sakit itu.


“Memangnya siapa yang sakit Mbak?”


“Ayah saya. Beliau memang keluar masuk rumah sakit.”


“O, ayahnya? Sakit apa beliau?”


“Jantungnya bermasalah,” jawabnya sedih.


“Saya ikut prihatin, semoga ayah mbak … eh … siapa nama Mbak?”


“Saya Anjani,” jawab Anjani tanpa prasangka.


“Ah, mbak Anjani. Saya ikut prihatin, semoga ayah mbak Anjani segera sembuh,” katanya dengan wajah prihatin.


“Aamiin, terima kasih Pak,” jawab Anjani.


“Panggil saya Usman. Saya juga sedang menunggui istri yang sedang sakit. Tapi sakitnya sudah parah,” dan Usman menunjukkan wajah sedih.


“Saya juga ikut prihatin atas sakitnya ibu. Semoga cepat sembuh,” kata Anjani tulus, lalu dia berpamit untuk kembali ke ruang rawat ayahnya.


Tanpa Anjani ketahui, Usman mengikuti Anjani untuk mengetahui ruang rawat ayah Anjani.


Ternyata ayah Anjani berada di ruang rawat kelas menengah, bukan kelasnya orang-orang yang punya duit. Itu sebabnya maka wajah Anjani juga tampak sangat prihatin. Barangkali biaya sakit sang ayah sangat memberatkannya.


Di hari itu juga, hari dimana dia melihat dan sempat berbincang dengan Anjani, istri Usman tutup usia. Hanya anak gadisnya, Erma, yang menunggui saat itu. Ia menangis keras sambil berteriak memanggil ayahnya.


Usman yang kembali ke ruang rawat istrinya, tidak sempat melihat saat terakhir kepergian sang istri,


“Bapak ke mana saja?” tangis Erma.


“Bapak hanya sedang menanyakan obat di apotik,” jawab Usman yang segera mendekati jasad istrinya.


***


“Sebaiknya saya segera pulang,” suara itu membuyarkan lamunan Usman.


“Oh, eh … jangan pulang, makan dulu itu, kan sudah dipesan.”


Anjani meraih piringnya, dan hanya memakan tiga suap.


“Nggak dihabiskan?”


“Perut saya terasa mual.”


Usman tertawa.


“Kamu belum mengandung anakku, kenapa sudah merasa mual?”


Anjani miris mendengar perkataannya.


***


Begitu masuk ke rumah, ibu tirinya menyambut dengan wajah berseri. 


Tak peduli pada wajah masam Anjani, dia mempersilakan ‘calon menantunya’ untuk segera duduk di ruang tengah.


“Nak Usman, silakan duduk dulu, akan ibu buatkan minuman segar untuk nak Usman. Ayolah.”


Panggilan ‘nak’ itu terasa janggal, karena Usman seumuran suaminya. Tapi karena dia dianggap calon menantu, ya panggilan itu yang diucapkannya, dan Usman pun dengan senang hati menerima cara memanggil calon ibu mertuanya.


“Terima kasih Bu, tapi saya harus kembali ke kantor, karena banyak urusan. Nanti malam saja saya kembali kemari untuk mengajak jalan-jalan Anjani.”


“Oh, baiklah. Tidak apa-apa, saya tahu nak Usman sibuk. Nanti malam saya akan menyuruh Anjani bersiap-siap.”


Anjani yang sudah beranjak ke belakang, merinding mendengar pembicaraan Usman dan sang ibu. Nanti malam lagi? Bagaimana cara menolaknya? Anjani sibuk mencari alasan yang akan disampaikannya nanti.


Ketika Usman pulang, hanya sang ibu yang mengantarkannya sampai Usman memasuki mobilnya, dan menunggu sampai mobil itu berlalu.


Anjani terkejut ketika tiba-tiba sang ibu memasuki kamarnya sementara dia sedang berganti pakaian.


“Anjani, bagaimana tadi? Bukankah pak Usman itu menyenangkan?”


Anjani tak menjawab. Usman sudah setengah tua, agak genit, mengapa menurut ibunya dia menyenangkan?


“Dengar Anjani, biarpun pak Usman itu sudah setengah tua, tapi dia masih gagah dan ganteng lho. Tidak memalukan kalau kamu bersanding dengannya nanti. Dan yang jelas, kamu tidak akan kekurangan. Kamu bahkan bisa mengangkat keluarga ini menjadi keluarga sejahtera. Dan yang lebih penting, biaya untuk ayah kamu bisa tercukupi. Lihat saja Jani, barang-barang berharga milik kita sudah kita jual demi pengobatan ayah kamu. Sementara ayahmu terus-terusan membutuhkan perawatan, bahkan dokter bilang bahwa bulan depan ayahmu akan dioperasi. Bayangkan saja, dengan apa kita membiayai semua itu? Kamu mengerti kan Jani, jadi kamu harus menurut pada apa kata ibu. Ibu juga sudah lelah hidup miskin. Dulu ibu mau menjadi istri ayahmu, karena ayahmu berkecukupan. Tapi dengan sakitnya ayahmu, semuanya hanya tinggal kenangan. Kalau begini terus, bisa-bisa ibu meninggalkan ayahmu dan tak akan mempedulikannya lagi.”


Perkataan ibunya yang panjang lebar itu seperti palu godam yang memukul dadanya dengan bertubi-tubi, membuat dadanya semakin sesak dan membuat napasnya tersengal-sengal.


“Bicara Jani, jangan diam saja. Apakah apa yang ibu katakan itu salah?”


Anjani memang tak bisa menyalahkannya, karena pengorbanan yang dituntut dari  dirinya adalah demi sang ayah.


“Apa tidak ada jalan lain?” tapi Anjani mencoba menjawab, hati-hati, walau dia juga tak tahu, jalan lain itu apa.


“Apa katamu? Jalan lain bagaimana? Katakan bagaimana, sementara pak Usman sudah banyak mengeluarkan uang untuk pengobatan ayahmu? Dia juga memindahkan ayahmu ke ruang perawatan yang jauh lebih baik. Apa kita mampu melakukannya?


“Bagaimana kalau kita jual rumah ini?”


“Apa? Apa kamu sudah gila? Kalau rumah ini dijual, kita akan tinggal di mana? Tidak … tidak … itu bukan jalan terbaik. Jalan yang terbaik adalah kamu menikah dengan pak Usman. Titik.”


Estiana meninggalkan kamar Anjani dengan wajah marah, tapi sebelum keluar dari pintu, dia menoleh lagi.


“Nanti malam pak Usman akan datang untuk mengajakmu jalan-jalan. Jangan mengecewakannya,” katanya tandas, lalu menutup pintunya keras.


Anjani terisak, lalu menelungkupkan tubuhnya di ranjang, menyembunyikan tangisnya dibawah bantal.


***


Malam itu dengan seluruh rasa berat hati yang dipunyainya, Anjani menemani Usman yang mengajaknya jalan-jalan. Usman tampak sangat menikmati, jalan berdua de ngan seorang gadis cantik yang akan menjadi istrinya.


“Anjani, mampir ke pom dulu ya, sopirku lupa mengisi bahan bakar,” kata Usman yang langsung membawa masuk mobilnya ke area pom bensin yang sudah ada di depannya.


Anjani tak menjawab. Ia diam saja ketika Usman turun. Tapi tiba-tiba ia melihat seseorang berdiri disamping sebuah mobil. Anjani terkesiap. Di bawah cahaya lampu yang benderang, ia bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu.  


“Apakah itu Jatmiko? Walau puluhan tahun berlalu, tapi wajah itu masih melekat erat dibenaknya. Dia sahabat kecilnya.


“Apakah aku salah? Pastilah wajah yang sekian tahun terlewat bisa berubah. Tapi benarkah dia? Rupanya aku harus membuktikannya,” kata batin Anjani.


Tanpa berpikir panjang, ia turun dari mobil dan berteriak.


“Mikoooo!!”


***


Besok lagi ya.


at January 24, 2024

Ada Cinta Dibalik Rasa (02)

 Kejora Pagi


Monday, January 22, 2024


ADA CINTA DIBALIK RASA 02


(Tien Kumalasari)

 

Suri bergegas meninggalkan gelas yang sudah berisi teh hangat tersebut, untuk melangkah ke arah depan.

“Siapa tamunya?”

“Om … siapa tadi … lupa … mencari ibu,” jawab Nugi.

Ketika sampai di teras, dilihatnya seorang laki-laki ganteng berdiri di depannya. Ia mengangguk begitu Suri keluar.

“Selamat malam, Bu.”

“Selamat malam, Nak. Mencari siapa ya?”

“Ibunya Nilam. Ibu ya?”

“Ya, saya. Oh ya, maaf, ibu belum pernah bertemu sih, tapi silakan masuk,” kata Suri ramah, karena laki-laki yang datang itu bersikap sopan.

“Di sini saja Bu, saya hanya sebentar.”

“Oh, baiklah.”

“Nama saya, Jatmiko. Kedatangan saya kemari, untuk meminta maaf pada Ibu.”

“Meminta maaf? Untuk apa Nak, kan kita belum pernah bertemu. Jadi kenapa harus meminta maaf?”

“Tadi saya telah menabrak Nilam sampai dia terjatuh.”


“Ooh, jadi yang menabrak anak saya tadi nak Jatmiko?”

“Iya, Bu. Nilam sepertinya marah pada saya, dan belum memaafkan saya, jadi saya memerlukan datang kemari untuk meminta maaf.”

“Ya ampun, ibu mengerti. Nak Jatmiko tidak sengaja melakukannya. Lupakan saja. Tunggu sebentar, Nilam sedang mandi.”

“Bagaimana keadaan kakinya yang terkilir?”

“Tadi sudah ibu gosok dengan minyak angin, seperti nya sudah lebih baik, walaupun jalannya masih terpincang-pincang.”

“Saya sangat menyesal, tapi sungguh saya tidak sengaja.”

“Tidak apa-apa. Tapi bagaimana nak Jatmiko bisa tahu rumah Nilam di sini?”

“Tadi saya ingin mengantarnya pulang setelah sepeda motornya di bawa pulang, tapi dia menolak, jadi saya mengikutinya, untuk meminta maaf pada Ibu.”

Suri tersenyum. Laki-laki di depannya sungguh santun dan menyenangkan.

“Tunggu sebentar Nak, saya buatkan minuman.

“Tidak usah Bu, saya mau pamit saja.” Tapi Suri sudah terlanjur masuk ke dalam dan tidak mendengarkan perkataan Jatmiko.

Jatmiko menghela napas. Dia tak ingin memperpanjang masalah, apalagi sikap Nilam sangat tidak bersahabat walaupun dia sudah meminta maaf. Jadi menurutnya, kalau dia sudah meminta maaf juga kepada ibunya, maka ia akan melupakan semuanya. Tapi lagi-lagi dia membayangkan bahwa Nilam adalah Anjani. Gadis kecil yang suka menolong, yang bicaranya lembut dan menawan.

Puluhan tahun yang lalu, Jatmiko adalah seorang yatim piatu yang menjadi penjual koran untuk bisa menyambung hidupnya dan membiayai sekolahnya. Waktu itu dia masih kelas lima SD. Pagi-pagi sekali, sambil sudah mengenakan seragam sekolah, dia sudah membawa setumpuk koran untuk dijajakan. Ia akan berhenti saat waktunya masuk sekolah, kemudian menjajakannya sepulang dari sekolah.


Keuntungan dari penjualan itu, dibelikan makanan seadanya, dan sisanya ditabung untuk membayar sekolah.

Siang hari itu dia sudah membawa sebungkus nasi yang dibelinya sepulang sekolah, lalu dia duduk di bawah pohon. Ia meletakkan tas sekolah yang semula digendongnya di punggung, lalu setumpuk koran yang masih tersisa diletakkan di atasnya. Ketika ia hampir membuka bungkusannya, dilihatnya seorang tua yang tampaknya pengemis, melintas di depannya. Pengemis itu duduk tak jauh darinya, dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Rasa iba membuat Jatmiko kemudian urung membuka bungkusan nasinya, kemudian diberikannya bungkusan itu kepada pak tua yang duduk tak jauh darinya.

“Pak, ini ada sebungkus nasi. Makanlah.”

Pak tua itu mendongak, menatap wajah Jatmiko dengan matanya yang kuyu, lalu tangannya terulur untuk menerima bungkusan itu. Senyum dari bibir keriput itu mengembang.

“Terima kasih.” lalu tampaklah dua biji gigi yang masih tersisa di dalam mulutnya.

Jatmiko mengangguk.

“Sama-sama Pak.”

Jatmiko kembali ke tempat dia duduk, untuk mengambil tas sekolah dan setumpuk koran sisanya, lalu bersiap untuk kembali menjajakannya. Ia mengabaikan perutnya yang lapar, dan berjanji akan membeli nasi lagi setelah dagangan korannya habis.

Tapi tiba-tiba seorang gadis kecil mengulurkan sebuah bungkusan kepadanya.

“Ini roti, makanlah.”

Jatmiko ragu-ragu menerimanya. Ditatapnya gadis kecil dengan mata bola yang berdiri di depannya. Gadis itu manis, bibirnya tipis, tersenyum tulus ke arahnya.

“Makanlah, bukankah kamu lapar?”

Jatmiko tersipu, sambil mengelus perutnya. Ia heran, bagaimana gadis kecil itu bisa tahu kalau dirinya lapar?

“Nasi bungkusnya kamu berikan kepada bapak itu kan?”

“Oh, kamu melihatnya?”

“Iya, aku masih berjalan dari sana tadi. Ya sudah, makan dulu rotinya, nanti perut kamu sakit,” kata gadis itu sambil berlalu.

Jatmiko menatap punggung gadis yang sudah berlalu itu, sampai menghilang di tikungan. Ia menatap sepotong roti yang aromanya kemudian menyergap ke arah hidungnya, begitu bungkusannya dibuka.

Jatmiko kembali duduk dan melahapnya.

Tapi sejak pertemuan yang pertama itu, Jatmiko selalu bertemu gadis itu di tempat yang sama, dan selalu saja si gadis memberikan sepotong roti untuknya.

“Mengapa kamu selalu memberikan roti kepadaku? Kamu sendiri makan apa?”

“Aku sudah memakannya. Itu bekal sekolahku, selalu sisa sepotong.”


“Terima kasih, kamu sungguh baik. Namamu siapa? Namaku Jatmiko.”

“Aku Anjani.”

Dan kemudian mereka bersahabat. Anjani yang tampaknya anak orang berkecukupan, tidak terlihat sombong. Ia teramat baik karena mau bersahabat dengan seorang miskin seperti dirinya.

Pada suatu hari, Anjani mendekatinya dengan wajah muram.

“Kamu kenapa?” tanya Jatmiko.

“Besok kita tidak akan bertemu lagi.”

Jatmiko terkejut.

“Ayahku dipindah tugaskan ke kota lain, aku harus mengikutinya.”

Jatmiko menatapnya sedih.  Demikian juga Anjani.

“Miko, aku punya sepasang gelang mote berwarna hitam. Aku berikan satu untuk kamu ya,” kata Anjani sambil memberikan sebuah gelang kepada Jatmiko, yang diterimanya dengan perasaan sedih.

“Pakailah terus gelang ini. Kalau pada suatu hari kita bertemu lagi, aku harap kita tidak saling melupakan.”

Jatmiko memasukkan gelang itu pada tangannya. Demikian juga Anjani.

“Sampai ketemu, Miko,” kata Anjani sambil membalikkan tubuhnya, lalu berlari menjauh. Jatmiko menatap punggungnya sampai bayangan gadis itu tak tampak lagi.

“Ini Nak, diminum dulu, hanya teh hangat.

Lamunan Jatmiko buyar, ketika Suri keluar sambil membawa segelas teh hangat.

“Terima kasih Bu.”

“Minumlah Nak. Sebentar, saya lihat dulu Nilam, kalau sudah selesai biar ketemu nak Jatmiko.”

“Tidak usah Bu, dia masih marah sama saya.”

“Tidak apa-apa,” kata Suri sambil menjauh.

Suri memasuki kamar Nilam, melihat gadis itu sedang berganti pakaian.

“Dia datang kemari, temuilah,” kata Suri.

“Siapa Bu?” tanya Nilam heran.

“ Jatmiko, yang menabrak kamu.”

“Dia? Kemari? Kok tahu di mana aku tinggal sih?”

“Dia mengikuti taksi yang kamu tumpangi.”

Wajah Nilam langsung muram.

“Kamu tidak boleh terus-terusan marah. Dia kemari sebenarnya hanya ingin menemui ibu untuk meminta maaf. Tapi kan tidak enak kalau kamu tidak mau keluar? Dia sudah mengakui kesalahannya. Jangan sampai dia menganggap kamu sombong. Yang baik harus dihadapi dengan baik,” kata Suri lembut.

“Baiklah.” katanya sambil mengambil kerudung yang tadi dipakainya. Kelamaan kalau harus membuka almari.

Nilam keluar dengan tertatih. Ia tak berani membantah perkataan sang ibu.

Ketika sampai di teras, dia melihat Jatmiko duduk dengan wajah tertunduk, yang kemudian diangkatnya untuk menatap Nilam yang baru saja keluar.

“Masih sakit?” sapanya.

“Sudah berkurang. Kok bisa sampai ke sini sih?” Nilam tetap saja bertanya, walaupun sang ibu sudah mengatakannya.

“Aku mengikuti taksi yang kamu tumpangi. Bukan apa-apa, karena kamu tidak mau memaafkan aku, maka aku harus meminta maaf pada ibumu,” katanya memberi alasan.

Nilam menatap laki-laki di depannya. Pantas ibunya menanggapinya dengan baik. Laki-laki ini begitu santun dan tampak sangat menyesal. Bukankah tadi dia ingin menemuinya dan meminta maaf karena sikap ketusnya?


“Aku juga minta maaf, tadi terlalu ketus ketika menghadapi kamu.”

“Aku mengerti, pasti kamu sangat marah. Akulah yang salah.”

“Bagaimana kamu bisa mengira bahwa aku adalah sahabat yang kamu cari?”

“Kamu mirip. Terutama mata kamu yang bulat. Aku pikir wajar kalau ada perubahan pada wajah seseorang ketika dia sudah dewasa. Jauh bedanya wajah ketika masih anak-anak dan ketika dia sudah menjadi dewasa. Tapi kemiripan itu pasti ada.”

“Dan nyatanya kamu salah kan?”

“Benar, aku salah. Sudah lama aku mencari dia. Aku pernah mendatangi rumahnya, tapi rumah itu sudah dijual, dan penghuni baru rumah itu tidak tahu ke mana mereka pindah.”

“Dia pasti sangat istimewa bagimu.”

“Dia lembut dan sangat baik. Waktu itu aku hanya seorang laki-laki yatim piatu yang mengais rupiah demi rupiah, untuk membiayai sekolahku. Anjani yang ketemu saat pulang sekolah, selalu memberikan aku sepotong roti. Ia anak orang berada. Barangkali dia tahu kalau aku sering kelaparan.”

Nilam mengerutkan keningnya. Apa yang dikatakan Jatmiko sangat membuatnya trenyuh. Seorang anak yatim piatu, kelaparan, mencari uang untuk hidupnya sendiri dan membiayai sekolahnya juga? Rupanya Jatmiko dulunya hidup sangat sengsara.

“Tapi kamu sudah menjadi orang yang berhasil, sekarang.”

“Aku selalu memohon dalam setiap sujudku, agar aku bisa menemukan kehidupan yang lebih baik, siapa tahu di sana ayah dan ibuku bisa melihatku dan merasa senang ketika anaknya berhasil menjadi orang.”

“Kamu berjuang sendiri? Kamu bekerja apa?”

“Awalnya aku menjajakan koran, setiap pagi sebelum aku sekolah, dan setelah pulang sekolah. Lalu aku berhasil lulus SD dan mendapat nilai bagus. Aku melanjutkan ke SMP dan SMA dengan bea siswa,”

“Bukan main.”

“Aku bisa kuliah, juga dengan bea siswa. Bisa melanjutkan sampai selesai, dengan tetap menjajakan koran dan menjadi penjaja kue dari sebuah pabrik, diwaktu luang kuliah aku. Sekarang aku sudah bekerja selama tiga tahun dan mendapat kepervayaan bisa memakai mobil perusahaan. Jadi itu bukan mobil aku.”

Diam-diam Nilam kagum atas perjuangan Jatmiko yang bisa mencapai kehidupan yang lebih baik, dari seorang penjaja koran menjadi seorang yang pastinya punya jabatan penting di sebuah perusahaan.

Sikap Nilam menjadi berubah terhadap Jatmiko. Dari kesal menjadi kagum, dan kekaguman itu masih terbawa, ketika ia bercerita kepada ibunya, bagaimana awal ketemunya dengan Jatmiko, yang tiba-tiba mengira dia sahabat masa kecilnya.

“Tuh, ibu sudah tahu kalau dia laki-laki yang baik. Laki-laki yang bisa mencapai kehidupan layak dari sebuah perjuangan keras didalam kesengsaraan, adalah pejuang yang hebat. Cari suami yang seperti dia, ibu akan senang.”

Nilam terkejut.

“Kok tiba-tiba ibu bicara tentang suami sih?”

“Nilam, kamu itu sudah dewasa, sudah saatnya berkeluarga.”

“Nggak ah, belum. Nilam masih ingin begini saja,” kata Nilam sambil menjauhi ibunya dan masuk ke dalam kamarnya. Rupanya dalam pertemuannya dengan Jatmiko, sang ibu berharap menjadikannya menantu. Sementara Nilam hanya kagum, dan bukan jatuh cinta. Memangnya gampang, jatuh cinta? Pikir Nilam saat membaringkan tubuhnya di ranjang. Kan baru ketemu sekali. Lagi pula Jatmiko sangat mendambakan Anjani. Untuk apa dia memikirkannya?

***

Pagi itu Wijan melihat Nilam datang ke kantor dengan kaki terpincang-pincang.

“Hei, kamu kenapa?”

“Kakiku sakit, keseleo karena terjatuh tadi malam.”

“Malam-malam kamu ke mana? Apa tidak capek setelah bekerja seharian?”

“Sebenarnya aku hanya mampir belanja sebentar. Beli roti untuk ibu dan Nugi juga, tiba-tiba seseorang menabrak aku. Jatuhlah aku.”


“Kasihan deh. Sudah diobati belum? Perlu dibawa ke rumah sakit?”

“Hiih, cuma keseleo, kenapa harus dibawa ke rumah sakit.”

Nilam duduk di kursi kerjanya.

“Kalau masih sakit harusnya tidak usah masuk kerja. Istirahat dulu.”

“Nggak mau, nanti bapak bilang aku malas deh.”

“Ya nggak mungkin. Sakit kok dibilang malas.”

“Tapi aku masih sanggup bekerja kok. Lagi pula, kalau nggak masuk kerja ya nggak ketemu mas Wijan dong.”

“Memangnya kalau nggak ketemu kenapa? Kayak orang pacaran saja.”

“Memangnya mas Wijan nggak suka, pacaran sama aku?”

Wijan tertawa keras.

“Pagi-pagi sudah membuat lelucon, kamu tuh. Nih, berkas yang harus kamu kerjakan. Besok pagi akan dibawa ke rapat ya, harus selesai.”

“Siap, juragan.”

Wijan lagi-lagi tertawa.

“Eh, Mas, dengar cerita aku dulu. Semalam itu, laki-laki yang menabrak aku_”

“O, laki-laki ya, pasti ganteng, buktinya kamu mau cerita saja sudah senyum-senyum.”

“Dengarkan dulu aku cerita, belum-belum sudah pengin mengejek saja.”

“Baiklah, terus … ?”

“Laki-laki yang menabrak aku itu, namanya Jatmiko.”

“Bagus, sekalian dapat kenalan nih.”

“Tapi dia tuh mengira bahwa aku teman masa kecilnya. Kesel tidak?”

“Karena wajahmu mirip, barangkali.”

“Ya, pastinya begitu, aku terkejut lho Mas, dia nekat sekali. Kamu Anjani kan? Ingat aku nggak? Aku Jatmiko. Gitu, nekat kan?”

“Apa kamu bilang tadi, Anjani? Nama gadisnya itu Anjani?”

“Dia sedang mencari teman masa kecilnya yang bernama Anjani, kok dia ngeyel bahwa akulah Anjani.”


“Sepertinya aku mengenal nama itu,” gumam Wijan seperti kepada dirinya sendiri.

“Apa? Mas Wijan kenal?”

***

Besok lagi ya.

Ada Cinta Dibalik Rasa (01)

Kejora Pagi


Monday, January 22, 2024

ADA CINTA DIBALIK RASA 01



(Tien Kumalasari)


 


Cuaca cerah di sore hari itu. Udara tak lagi panas, karena matahari sudah condong ke arah barat, dan siap berbaring diperaduannya. Bayangan samar sepotong rembulan tampak mengambang.


Masih ingat Nilamsari? Gadis anak angkat bu Suri yang sudah beranjak dewasa, tumbuh menjadi gadis cantik menawan. Ia sudah menjadi sarjana, dan bekerja menjadi sekretaris di perusahaan Raharjo. Walau hidupnya berkecukupan karena sudah memiliki penghasilan sendiri, tapi ia tetap sederhana. Barangkali bercermin dari kehidupan ayah tirinya dan juga kakak tirinya, yang selalu mengajarkan tentang kebaikan dalam menjalani hidup. Mereka kaya raya, tapi tetap rendah hati dan sederhana. Itulah yang juga dijalankan oleh Nilam yang sudah menjadi anak angkat ibu Suri sejak belum lulus SMP. Kekayaan bukan kebanggaan, karena kekayaan hati nurani lebih mulia dan berderajat tinggi.


Nilam, gadis cantik nan rupawan turun dari sepeda motornya, setelah memarkirnya di tempat parkir. Ia lalu menuju ke sebuah toko kue. Ia baru pulang dari kantor, dan memerlukan mampir belanja sebelum pulang ke rumah.


Ia membeli kue kesukaannya, kue lapis sarikaya, dan juga kue coklat kesukaan Nugi, adiknya. Tentu saja kue pisang kesukaan ibunya juga tidak dilupakannya.


Nilam baru saja menerima gaji yang langsung ditransfer ke dalam rekeningnya, dan ingin membuat seisi rumah menjadi senang. Oh ya, Nilam juga suka kue kacang.


Banyak sekali belanja kue di sore hari itu, lalu ia melangkah keluar dari toko dengan riang.


Ia masih memarkir motornya di depan toko kue itu, karena ia ingin membeli sesuatu di sebuah mini market. Tidak usah ke mal atau super market, keburu malam, pikir Nilam. Ia hanya butuh sabun mandi dan perlengkapannya, serta membeli sabun cuci untuk keluarga. Ketika melihat box es krim, ia ingat untuk membelikannya juga untuk Nugi.


Belanjaan Nilam banyak sekali. Tangan kiri dan kanannya menjinjing keresek, yang walaupun tidak begitu berat, tapi cukup membuatnya repot membawanya. Tapi tempat parkir sepeda motornya tidak begitu jauh, jadi Nilam tetap melangkah dengan ringan. Susahnya hanya karena ia memakai sepatu dengan hak yang agak tinggi.


Ketika kira-kira seratus meter dari tempat dia memarkir sepeda motornya, tiba-tiba seseorang menabraknya. Nilam terjatuh, belanjaannya berserakan.


“Maaf … maaf …maaf … “ kata si penabrak yang kemudian sibuk mengumpulkan belanjaan Nilam yang berserak, kemudian membantu Nilam bangun, karena tampaknya Nilam susah untuk bangkit kembali.


“Auugh,” Nilam mengaduh. Rupanya kakinya terkilir. Penabrak itu kemudian memapah Nilam ke arah pinggir, diajaknya duduk di sebuah bangku, di warung susu segar yang mangkal di antara pertokoan.


Nilam masih tampak meringis menahan sakit.


“Maaf ya, maaf … sekali, saya tidak sengaja menabrak. Mana yang sakit?” katanya penuh penyesalan.


Nilam baru menatap penabraknya, yang ternyata seorang laki-laki muda yang sangat tampan. Tapi mata teduh laki-laki itu tidak bisa meredakan kekesalannya karena sekarang pergelangan kakinya terasa sakit.


“Tampaknya pergelangan kakiku terkilir,” katanya sambil cemberut. Laki-laki itu terpana. Mengapa mulut mengerucut dan mata penuh kesal itu membuatnya terpesona?


“Mm … maaf ya.”


“Hei, pergilah, sudah terlalu banyak kamu meminta maaf. Dan kata maaf itu tidak akan menyembuhkkan kakiku yang sakit,” runtuknya.


“Maaf ya … “


“Maaf lagi sih.”


“Aku akan beli minyak gosok, ada apotik di sebelah situ. Oh ya, Mas, pesan susu coklat dua gelas, sama roti bakar ya,” kata laki-laki muda itu sebelum berlalu.


Nilam menghela napas. Ia mengangkat kakinya dan memijit-mijitnya.


“Kakinya diselonjorkan saja Mbak, bangkunya kan panjang,” kata pemilik warung susu segar itu sambil sibuk mengerjakan pesanan.


Belum ada pembeli di sana, karena tampaknya warung itu baru saja buka.


Nilam mengangkat kakinya setelah mengangguk, lalu kembali memijit mijit pergelangan kaki kirinya.


Laki-laki muda itu datang sambil membawa obat gosok.


“Ini, biar aku mengurut kakimu dengan ini, mudah-mudahan berkurang sakitnya,” katanya sambil duduk mendekat.


Nilam memelototkan matanya.


“Apa? Kamu mau memegang-megang kakiku?” katanya sengit sambil meraih obat gosok yang diulurkan laki-laki itu dengan agak kasar.


“Oh, iya … maaf, saya tidak sadar mengatakannya,” katanya penuh penyesalan. Akhirnya dia memalingkan wajahnya, dan tidak berani menatap Nilam yang membuka kaus kakinya.


Nilam merasa lega, laki-laki itu tahu diri dan sedikit santun. Kemudian ia menggosok pergelangan kakinya dengan obat gosok itu, sambil meringis menahan sakit, sementara laki-laki itu menikmati coklat susu yang sudah dihidangkan. Ia menyesal karena ia tidak bisa membantu menggosoknya.


“Sambil minum coklat susunya, nanti kan sakitnya berkurang.”


Nilam melirik ke atas meja, dimana terhidang dua gelas coklat susu, dan sepiring roti bakar lapis coklat.


Ia terus saja menggosok pergelangan kakinya, sampai rasa sakitnya berkurang.


“Sudah mendingan?” tanya laki-laki itu sambil menatap bibir mengerucut itu penuh kagum.


Tapi tiba-tiba laki-laki itu berteriak pelan.


“Kamu, bukankah kamu Anjani?” sambil terpekik itu dia tak berani menatap kaki Nilam.


Nilam menghentikan kesibukannya menggosok pergelangan kakinya. Ia menatap heran pada laki-laki yang duduk agak jauh darinya, sambil memasang kembali kaus kakinya, lalu menurunkannya.


“Kamu Anjani kan?” pekik laki-laki itu lagi.


“Ngawur,” Nilam bertambah merengut.


“Kamu lupa sama aku? Aku Jatmiko.”


“Lupa? Mengenal namamu saja aku tidak pernah,” katanya ketus, sambil meraih gelas coklat susunya. Agak malu sih, tapi sesungguhnya dia memang haus.


“Mas, berapa? Aku bayar sendiri ini ya,” katanya kepada penjual susu segar itu.


“Tunggu, jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu Anjani kan? Dengar, aku Jatmiko. Kita pernah bertukar gelang mote warna hitam waktu itu.”


“Ngelindur!”


“Aku membawanya, lihat.”


Jatmiko tiba-tiba mengambil sesuatu dari saku bajunya, sebuah kantung beludru berwarna biru, lalu membukanya dan mengeluarkan seguah gelang mote yang dirangkai. Gelang mote berwarna hitam itu agak kecil.


“Kalau gelang ini cukup aku pakai pada tanganku, pasti aku tak akan pernah melepaskannya. Jadi kemudian aku menyimpannya ke dalam kantung ini, tapi aku membawanya ke mana-mana, berharap pada suatu hari kita bertemu lagi. Gelang ini adalah pertanda sebuah persahabatan diantara kita. Mana gelang kamu?”


Nilam merasa risih dengan ocehan laki-laki bernama Jatmiko itu. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakannya. Ia mengacuhkannya, lalu meraba dompetnya.


“Mas, berapa harga segelas susu coklat itu?”


“Sudah dibayar oleh masnya ini MBak.”


“Berapa? Biar aku ganti.”


“Kamu itu cantik, mengapa sekarang begitu sombong? Dulu kamu sangat lembut dan baik hati.”


“Dulu … dulu … dulu … berhentilah mengigau, aku bukan Anjani, bukankah Anjani adalah ibu dari tokoh pewayangan berwajah kera putih bernama Anoman?” kata Nilam sambil tersenyum mengejek. Kemudian ia berdiri.


“Kamu sangat berbeda. Bertahun-tahun aku mencari kamu, tapi setelah ketemu kamu sudah berubah menjadi gadis yang sombong,” sesal Jatmiko, sedih.


Sambil beranjak keluar dari warung itu, Nilam menelpon ibunya.


“Ada apa? Kenapa kamu belum pulang, Nilam?” tanya Suri dari seberang.


“Ibu, bisakah minta tolong seseorang untuk mengambil motor Nilam?”


“Memangnya motor kamu di mana?”


“Di depan toko roti langganan Ibu.”


“Kenapa motornya kamu tinggal di situ?”


“Nilam beli roti di situ, lalu Nilam jatuh.”


“Apa? Kenapa bisa jatuh?”


“Ceritanya panjang, Bu, cepat suruhan mengambilnya ya, Nilam ada di depan warung susu segar, dekat apotek yang sederet dengan toko roti itu. Setelah itu Nilam mau naik taksi.”


Nilam menutup ponselnya setelah ibunya mengatakan ‘iya’.


Tapi ketika mendengar pembicaraan di telpon itu, Jatmiko terkejut. Ia baru sadar bahwa gadis itu bernama Nilam.


“Jadi namamu Nilam?”


“Sekarang kamu tahu kan?”


“Maaf, berarti aku salah orang. Kenapa ya, wajahmu mirip? Tapi baiklah, siapapun kamu, aku merasa bersalah. Maukah aku antarkan dengan mobilku, setelah sepeda motormu diambil oleh entah siapa yang kamu suruh mengambilnya?”


“Aku mau naik taksi.”


“Tolong ijinkan aku, sekalian aku juga akan minta maaf kepada ibumu,” kata Jatmiko  bersungguh-sungguh.


“Aku naik taksi saja,” Nilam bersikukuh pada pendiriannya.


“Tolonglah, sebagai permintaan maafku. Lagi pula hari sudah gelap, kalau kamu diculik tukang taksi, bagaimana?” goda Jatmiko.


“Justru aku takut kalau kamu menculik aku,” ketus Nilam.


Jatmiko kehabisan kata-kata. Tampaknya gadis itu susah ditundukkan. Keras kepala, tapi Jatmiko justru tertarik, karena sikap itu menunjukkan bahwa Nilam bukan gadis gampangan.


“Ini, aku ganti bayar coklat susunya,” kata Nilam sambil meletakkan uang duapuhan ribu di depan Jatmiko.


“Gadis sombong,” kata batin Jatmiko sambil membuka dompetnya, lalu mengambil uang sepuluhan ribu, disodorkan ke depan Nilam.


“Terlalu banyak, ini kembaliannya,” katanya dengan wajah masam.


Melihat wajah masam Jatmiko, tiba-tiba timbul rasa sesal dihati Nilam. Ia terlalu galak dan merasa telah keterlaluan karena bagaimanapun Jatmiko sudah berusaha meminta maaf dan berbaik hati membelikan coklat susu dan juga minyak gosok.


“Oh ya, ini minyak gosoknya,” katanya sambil memberikan  botol minyak gosoknya ke hadapan Jatmiko.


“Bawa saja, aku tidak keseleo,” kata Jatmiko, yang kemudian berdiri dan keluar dari warung itu


Nilam tertegun, lalu merasa semakin bersalah. Ia ingin mengejar keluar dan meminta maaf, tapi kakinya masih terasa sakit ketika ia mencoba berjalan. Ia mencobanya lagi dan tertatih keluar, tapi bayangan Jatmiko sudah tak kelihatan.


Nilam menghela napas, sementara Ranto, pegawai warung yang disuruh ibunya untuk mengambil sepeda motor sudah berada di depannya.


“Mbak Nilam, mana kuncinya? Saya disuruh ibu mengambil sepeda motor MBak Nilam. Saya sudah melihatnya di depan toko roti itu.”


“Oh iya, ini To, aku mau memanggil taksi.”


“Saya tungguin?”


“Tidak, segera bawa sepeda motorku pulang,” perintah Nilam.


Ranto mengangguk, kemudian berlalu. Nilam segera memanggil taksi. Walau tertatih ia masih bisa berjalan ke arah taksi, sambil membawa dua bungkusan belanjaannya.


***


Ketika sampai di rumah, Suri terkejut melihat Nilam berjalan tertatih sambil membawa bungkusan. Ia segera mendekat dan mengambil bungkusan itu,  membiarkan Nilam berjalan sambil bergayut di lengannya.


“Apa yang terjadi?” tanya Suri khawatir.


“Mbak Nilam kenapa?” tanya Nugi yang baru saja keluar dari rumah.


“Nggak apa-apa sayang, hanya terjatuh, tadi,” jawab Nilam sambil mengelus kepala Nugi.


“Itu, ibu bawa apa?”


“Ayo masuk dulu, dan lihat apa yang dibawa mbak Nilam,” jawab Suri sambil tersenyum.


Nilam segera duduk di atas sofa, lalu mencopot sepatu dan kaus kakinya.


“Warungnya ramai, Bu?”


“Kamu itu ditanya ‘kenapa’, malah menanyakan warung,” sungut Suri.


“Nilam hanya terjatuh setelah belanja.”


“Bagaimana bisa terjatuh? Kebanyakan belanjanya?” tegur sang ibu.


“Sebetulnya bukan karena belanja kebanyakan, tapi ditabrak orang.”


“Ditabrak orang? Coba ibu lihat. Tuh, kebiruan. Kok sudah bau minyak gosok?”


“Orang itu membelikan minyak gosok.”


“Mana minyak gosoknya?”


“Sudah Nilam kembalikan.”


“Yaaaah, es krimnya sudah cair,” tiba-tiba Nugi berteriak.


“Oh, iya. MBak lupa. Kelamaan di jalan Nug, masukkan ke freezer dulu,” kata Nilam.


Suri masuk ke kamar dan keluar dengan membawa sebotol minyak gosok.


“Mana ibu gosokin sambil diurut-urut.”


Nilam mengangkat kakinya, membiarkan ibunya mengurut pelan pergelangan kakinya.hk


“MBak, ini roti coklat buat siapa?” teriak Nugi lagi. Dia membongkar semua bungkusan roti.


“Itu buat kamu Nugi, ambil yang kamu suka, lainnya tolong ditata di piring ya, anak pintar.”


“Oke,” teriak Nugi dari arah belakang.


Nugi sudah kelas satu SD. Bayi kurus kering yang dilahirkan dari rahim almarhumah Hasti, kakak Nilam, telah tumbuh menjadi laki-laki kecil yang ganteng dan pintar. Ia menjadi kesayangan di dalam keluarga Suri. Ia tak tahu siapa yang melahirkannya. Yang dia tahu adalah bahwa dia anaknya bu Suri, dan punya kakak Nilam yang sangat mengasihinya.


Setiap kali Suri menatapnya, ia melihat bayangan Baskoro di sana. Tapi ia selalu mengibaskannya. Ia sudah melupakan laki-laki yang mengkhianatinya itu. Dalam setiap doanya, ia berharap jangan sampai kelakuan buruk laki-laki yang meneteskan benihnya, menurun kepadanya. Suri akan menjadikannya anak yang baik dan pintar, serta memiliki hati yang bersih dan mulia. Nugi harus menjadi kebanggaan keluarga.


“Bagaimana tadi ceritanya, sehingga kamu bisa tertabrak olehnya?” tanya Suri sambil membebat pergelangan kaki Nilam dengan pembalut yang elastis.


“Orangnya nggak lihat jalan.”


“Nanti akan berkurang sakitnya. Besok jangan ke kantor dengan sepeda motor, naik taksi saja. Sakitnya biar pulih dulu.”


“Iya Bu. Sekarang Nilam mau mandi dan ganti baju dulu, gerah. Nanti akan Nilam ceritakan bagaimana laki-laki itu membuat Nilam bertambah kesal.”


“ Baiklah, sekarang Ibu ambilkan kursi dulu, kamu mandi sambil duduk, kakimu jangan kena air dulu, nanti kedinginan dan semakin terasa nyeri. Jadi kakimu yang sakit itu ditumpangkan di kursi yang satunya. Ibu ambilkan dua kursi, supaya enak kamu mandinya.”


“Terima kasih ya Bu.”


Ketika Nilam mandi, Suri segera membuatkan minuman hangat untuk Nilam. Tapi belum selesai ia membuatnya, tiba-tiba Nugi berteriak.


“Ibu, ada tamu.”


***


Besok lagi ya.


at January 22, 2024

Arsip Post

Kau Tetap Ku Sayang

Kau Tetap Ku Sayang ~ Ali Assegaf  *Kau Tetap Kusayang* Evie Tamala Dinyanyikan oleh : *Ali Assegaf* (Nur Ali Muntari)   Bukan aku kejam Ata...