Showing posts with label Sebuah Pesan. Show all posts
Showing posts with label Sebuah Pesan. Show all posts

Thursday, January 25, 2024

Sebuah Pesan (62)

SEBUAH PESAN  62


(Tien Kumalasari)


 


Bu Rahman mengusap air matanya.


“Bu, kamu tidak usah malu untuk mengakui kesalahan. Kamu juga tidak usah malu untuk meminta maaf. Tidak semua manusia itu bisa melangkah dengan mulus dalam meniti kehidupan ini. Ada saatnya aku bisa mengerti apa yang sebenarnya kamu rasakan, tapi ada saatnya ketika aku juga merasa lelah untuk memahami isi hati kamu. Banyak proses yang harus dilalui untuk mencapai sebuah titik. Itu bukan masalah  saat kita menyadarinya."


Bu Rahman menangkap sebuah pesan seperti yang dikatakan suaminya. Banyak proses yang harus dilalui untuk mencapai sebuah titik.


“Maksudnya, akhirnya aku bisa mengerti adanya sebuah kebenaran yang aku ingkari selama ini, bukan?”


“Benar. Aku bersyukur kamu bisa mencapainya.  Yakinkan pada diri kamu bahwa kamu adalah seorang ibu yang sangat memikirkan nasib putrimu, sehingga melupakan sebuah nilai luhur seorang manusia dalam menghadapi orang lain. Bahwa menyakiti itu salah, bahwa membuat orang terluka itu tidak benar, bahwa merasa diri benar itu juga salah.”


“Aku sangat menyesal.”


“Jangan menyesal karena menyadari bahwa Damian bisa menjadi penolong kita, atau karena Damian ternyata punya harta yang kamu tidak mengetahui sebelumnya. Damian orang yang sederhana. Aku mengakuinya sejak kamu menganggapnya dia miskin, dan karena itu aku mempercayakan anak bungsu aku pada tangannya.”


“Aku sungguh merasa bersalah. Tapi benar, perasaan itu muncul karena dia menjadi penolong bagi keluarga kita. Apakah itu salah? Aku merasa bahwa Damian menganggap aku baik pada dia, setelah mengetahui bahwa dia banyak uang.”


Pak Rahman tertawa kecil.


“Memangnya, kalau iya, kenapa? Bukankah itu benar?”


Bu Rahman menelan ludahnya.


“Aku sangat malu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Tetap membencinya agar aku tidak dianggap mata duitan?” tanya bu Rahman dengan perasaan resah.


“Jangan begitu, abaikan semua alasan, karena berbuat baik adalah keharusan.”


Bu Rahman kembali mengusap air matanya yang masih saja menetes.


“Ya sudah, biarkan semua berlalu, mari menapak ke jalan lurus yang ada di depan kita. Kamu harus berjuang untuk sehat, aku akan berjuang bersama anak dan menantu untuk menegakkan perusahaan yang hampir roboh ini. Jangan lagi menangis, agar rasa sakit segera berlalu dari hati kamu."


Bik Sarti mengetuk pintu, lalu masuk ketika pak Rahman menyuruhnya masuk. Dia membawa nampan berisi makanan, dan sepiring kecil obat-obatan.


“Saatnya nyonya makan dan minum obat,” katanya sambil meletakkan nampan yang di bawanya ke atas nakas.


“Bawa keluar lagi saja, Sarti, aku mau makan di ruang makan bersama tuan.”


“Baiklah, Nyonya,” jawab bik Sarti dengan mata berbinar.


***


Raya yang semakin merasa sehat, dengan tekun dan penuh perhatian melakukan pembenahan di kantor perusahaan ayahnya. Beberapa personal yang kurang kompeten dipindahkan ke divisi lain. Semuanya dalam pengawasan ketat. Uang yang keluar masuk harus sepengetahuan Raya atau Damian yang hanya mendampingi sang istri. Damian tidak sepenuhnya memegang perusahaan itu. Ia hanya membantu istrinya, karena istrinya lebih berhak untuk menggantikan kedudukan ayahnya. Pak Rahman hanya sesekali datang, mengontrol dan membenahi mana yang kurang benar. Tapi Raya harus diacungi jempol karena dia benar-benar bisa menguasai situasi hanya dalam beberapa bulan saja, walau dia juga sambil mengawasi salon miliknya. Pengalaman di perusahaan ayahnya, memberi pelajaran baginya agar tidak terlalu mempercayai karyawan tanpa pengawasan. Tumpukan uang bisa membuat orang lupa segalanya.


Pak Rahman sangat puas atas kerja anak dan menantunya. Bu Rahman yang perlahan bisa menata batinnya, mulai menaruh perhatian pada keluarga Damian. Ia juga bisa menyapanya dengan manis.


Sementara itu kandungan Raya sudah semakin membesar, Damian tak tega membiarkannya sibuk di kantor sendirian. Disaat senggang dia membantu istrinya di kantor, dan menyuruhnya istirahat saat sang istri merasa lelah.


***


Di hari Minggu itu Damian sedang bersantai bersama istrinya. Damian menatap wajah istrinya yang tampak lelah.


“Besok saatnya aku kontrol kandungan.”


“Akan aku antar kamu."


Akhirnya  Damian sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya, dan menunggu saat wisuda, sehingga ia bisa sepenuhnya menggantikan tugas sang istri di perusahaan.


“Kata dokter, bulan depan saatnya anak kita lahir,” kata Damian sambil mengelus perut sang istri.


“Iya benar, gerakannya sudah semakin kencang.”


“Aku bermaksud membuat satu kamar lagi di rumah ini, bagaimana menurutmu?”


“Sudah ada dua kamar, kan?”


”Kalau anak kita lahir, harus ada kamar yang lebih luas. Bagaimana kalau kamar almarhum bapak kita benahi, atau kita buat agak besar, supaya lebih nyaman saat kamu menyusui atau merawat bayi?”


“Terserah kamu saja. Lakukan mana yang terbaik.”


Maka dalam waktu sebulan kamar adik bayi sudah selesai. Kamar yang lebih luas, jendela yang agak besar, agar lebih mudah udara masuk ke dalamnya. Damian dan Raya sudah menyiapkan segala peralatan bayi, yang ditata di kamar itu dengan apik, Ada almari pakaian bayi, box bayi yang lucu, dan tempat tidur yang lebih besar dari tempat tidur ayah dan ibunya di kamar sebelah. Damian juga membuat pintu yang tersambung dari kamarnya sendiri ke kamar bayi, agar ia bisa segera datang saat mendengar anaknya menangis.


Raya merasa puas. Banyak yang dibenahi di rumah yang tadinya sederhana itu. Damian tak segan mengeluarkan uang demi anak yang masih dalam kandungan istrinya. Ia harus merasa nyaman tinggal di rumah orang tuanya.


***


Bik Sarti yang seperti biasa mengantarkan buah dan sayuran untuk Raya, hari itu datang bersama bu Rahman.


Damian dan Raya segera menyambutnya dengan gembira.


“Perut kamu sudah besar, wajah kamu kelihatan berkilat-kilat. Sepertinya beberapa hari lagi kamu akan melahirkan,” kata bu Rahman.


“Benarkah Bu? Ini juga sudah sering kenceng-kenceng, begitu.”


“Apa lagi yang kamu butuhkan? Ibu akan membantu menyiapkannya.”


“Sepertinya sudah, coba Ibu lihat di kamarnya."


Raya mengantarkan ibunya melihat kamar bayinya, yang sudah disulap menjadi kamar yang nyaman, dengan perlengkapan yang sudah memadai.


“Ibu akan membelikan kereta bayi ya?” kata bu Rahman dengan wajah berseri.


“Apakah itu perlu untuk bayi yang baru lahir Bu?” kata Raya.


“Tidak apa-apa Bu, terima kasih sekali kalau ibu mau membelikannya sekarang. Terkadang anak bayi juga harus dibawa jalan-jalan untuk menghirup udara segar,” kata Damian yang tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya.


Wajah bu Rahman berseri. Senang rasanya diijinkan ikut andil dalam mempersiapkan kebutuhan cucunya yang akan lahir.


“Nanti aku akan mengajak Sarti jalan-jalan, untuk melihat-lihat. Ya Sar?” kata bu Rahman kepada bik Sarti yang sedang memasukkan buah-buahan ke dalam kulkas setelah mencucinya, lalu menata sayuran di atas meja.


“Ada apa Bu?”


“Nanti kita jalan-jalan untuk melihat-lihat kereta bayi.”


“Sekarang Bu?”


“Setelah dari sini, langsung saja.”


“Baiklah,” kata bik Sarti dengan gembira. Ia melihat rumah Raya dan Damian sudah jauh lebih bagus. Rupanya demi menyambut kehadiran si buah hati, Damian kemudian merenovasi rumahnya juga sambil membenahi kamar untuk si bayi.


Walau tidak semewah rumahnya sendiri, bu Rahman melihat rumah Damian sudah lebih pantas dan nyaman.


“Kamu baru memperbaiki rumah kamu?”


“Iya Bu, demi menyambut kedatangan cucu ibu nanti,” kata Damian dengan riang.


 “Ya sudah, ibu mau pergi dulu.”


Damian meraih tangan ibu mertuanya dan menciumnya, lalu bu Rahman tiba-tiba memeluknya dan berbisik di telinga Damian.


“Terima kasih atas semuanya, dan maafkan ibu ya.”


Damian tertegun, sudah berkali-kali ibu mertuanya mengucapkan itu. Bahkan setiap ketemu. Damian sudah melarangnya, tapi bu Rahman tetap melakukannya.


“Ibu, jangan berkata begitu lagi. Ini kewajiban saya, dan saya tidak pernah menganggap ibu bersalah. Jangan lagi ibu mengucapkan itu ya,” bisik Damian lembut sambil membalas pelukan ibu mertuanya.


Bu Rahman melepaskan pelukan itu, lalu membalikkan tubuhnya, berjalan mendekati mobil yang menunggunya, sambil mengusap air matanya yang tak pernah bisa ditahannya.


***


Hari itu Kamila dan suaminya datang dari Jakarta, dengan membawa anaknya yang sudah agak besar. Mereka sedang berada di rumah sakit, karena Raya akan melahirkan.


Si kecil Adena, sudah belajar berjalan dengan berpegangan pada sesuatu. Lucu sekali. Tapi kedua orang tua dan nenek serta kakeknya sedang merasa gelisah karena Raya belum juga melahirkan, walau sudah dua jam berada di ruang bersalin.


Damian apa lagi. Ia mondar mandir di pintu ruang bersalin itu dengan wajah gelisah. Baru tadi pagi Raya mengeluh perutnya sakit, dan kenceng-kenceng. Ia bahkan sudah mengeluarkan sedikit darah. Damian segera melarikannya ke rumah sakit. Keluarga Rahman berikut keluarga Abi yang memang kebetulan datang berkunjung, segera menyusul ke rumah sakit.


Adakah debar yang lebih kencang dari saat menunggu kelahiran sang buah hati? Kata hati Damian berkali-kali.


Tiba-tiba seorang perawat keluar.


“Bagaimana suster?” tanya Damian begitu melihatnya.


“Bapak Damian?”


“Ya.” debar hati Damian semakin kencang.


“Bapak diijinkan masuk untuk menunggui istri Bapak.”


“Oh, baiklah.”


Tanpa menunggu dua kali, Damian masuk. Ia melihat sang istri sedang mengejan. Peluh bercucuran di wajahnya. Damian mendekat. Mengusap wajahnya dengan talapak tangannya.


“Ray, kuat ya Ray.”


“Dam, sakit Dam …”


“Tidak, sebentar lagi anak kita lahir,” kata Damian sambil memegangi tangan istrinya yang berkeringat.


Dokter memberi aba-aba agar Raya kembali mengejan.


“Sedikit lagi, sedikit lagi, tuh, kepalanya sudah kelihatan.”


“Ayo Ray, kamu kuat,” Damian terus memberinya semangat.


“Sedikit lagi Bu, ayo …” sang dokter terus memberi semangat.


Lalu tiba-tiba Raya menghembuskan napas lega. Rasa sakit itu sudah hilang, seorang bayi diangkat , masih berlumuran darah, memekik nyaring, menggema memenuhi ruangan.”


“Wouwww… ganteng sekali…” teriak dokter dan bidan yang menangani, serentak.


Damian melonjak kegirangan. Diciumnya sang istri bertubi-tubi.


“Terima kasih Ray, terma kasih telah melengkapi kebahagian kita…"


Dan lengking itu terdengar menggema sampai diluar, membuat keluarga pak Rahman serentak berdiri mendekat ke arah pintu.


Abi menggendong Adena yang berteriak-teriak kegirangan. Barangkali hati kecilnya merasa bahwa ada kehadiran saudaranya yang akan menemaninya bermain nanti.


Pintu terbuka, Damian keluar dengan berlinangan air mata.


“Bagaimana Dam?” tanya mereka serempak.


“Alhamdulillah, sudah lahir, ganteng seperti saya," katanya sambil bercanda. Lalu semua orang memeluknya untuk memberi selamat.


Gema tangisan bayi adalah gema bahagia, yang menghapus semua kegelisahan yang melanda.


***


Hari itu Damian di wisuda. Pak Rahman dan bu Rahman hadir, bersama Raya dan bayinya, yang diberinya nama Alvin Satria.


Hari itu adalah hari kebahagiaan yang lebih lengkap. Damian yang berhasil meraih gelar keren, Insinyur, serta kehadiran anak laki-lakinya yang bernama Alvin Satria.  Lalu rasa nyaman dan damai menghiasi hati mereka masing-masing.


Untuk mencapai sebuah titik, banyak proses yang harus dilalui. Titik itu adalah bahagia yang didamba.


***




TAMAT


 


 


Suara yang tak begitu keras itu terasa seperti menusuk dan merajang-rajang katinya. Laki-laki tampan yang adalah suaminya, yang baru sehari menikahinya, menghardiknya dengan kejam.


“Kamu harus tahu, bahwa aku tidak mencintai kamu. Jangan berharap banyak dengan pernikahan ini,


Terdengar pintu dibanting, dan gadis itu terguling di lantai. Pingsan.


 


Hai, cerita apa pula ini        BUNGA TAMAN HATIKU


Tungguin ya.


________________________

Sebuah Pesan (61)

 Friday, August 4, 2023

SEBUAH PESAN 61


 SEBUAH PESAN  61

(Tien Kumalasari)

 

Mereka yang sedang asyik berbincang, tak begitu perhatian dengan datangnya bu Rahman. Mereka terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara pintu terbanting dan tubuh bu Rahman terkapar di lantai.

Damian melompat bagai kucing, langsung sudah ada di dekat bu Rahman, kemudian menggendongnya, lalu mendudukkannya di sofa.

“Ibu tidak apa-apa?”

“Kenapa Ibu?”

“Kok bisa jatuh?”

Berbagai pertanyaan beruntun terdengar di telinga bu Rahman, namun dia tak menjawab sepatah pun. Dadanya terasa sesak, dan seperti susah untuk bernapas.

Raya lari masuk ke kamar, mencari minyak gosok. Damian memijit-mijit kakinya.

Bu Rahman masih sadar, tapi tampak terengah-engah.

“Sarti….!” teriak pak Rahman.

Bik Sarti yang sudah datang dari tadi segera mendekat.

“Ambilkan obat nyonya.”

Bik Sarti berlari mengambil obat, karena sehari-harinya memang bik Sarti yang melayani sang nyonya minum obat.

“Bik Sarti segera kembali dengan membawa segelas air putih hangat, dan sebutir obat kecil kekuningan, yang selalu diminum setiap kali bu Rahman merasa sesak napas.


Raya membantu mengangkat kepala ibunya, dan meminumkan obatnya, lalu dia menggosok-gosok dada ibunya pelan.

“Sudah, aku mau ke kamar saja,” katanya pelan.

Damian segera bangkit dan kembali mengangkat tubuh bu Rahman, di bawanya ke dalam kamar. Ia membaringkannya pelan, lalu menata bantalnya supaya kepala ibu mertuanya terbaring agak tinggi.

“Ke dokter ya Bu?” tanya Damian.

Bu Rahman menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Biarkan … aku sendiri …” katanya lemah.

“Sudah agak berkurang ya, sesaknya?”

“Sudah … sudah … pergilah,” bu Rahman memberi isyarat agar semuanya keluar, dengan melambaikan tangannya.

Raya mengajak Damian keluar, tapi pak Rahman masih berdiri di samping istrinya. Lalu ia duduk di tepi pembaringan.

“Ibu mengapa, kok tiba-tiba seperti ini,” kata pak Rahman ketika bu Rahman sudah mulai tenang.

“Apa … yang terjadi?”

“Apanya Bu?”

“Perusahaan Bapak.”

“Oh, Ibu tidak usah memikirkannya. Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.”

“Bapak bohong sama ibu.”

“Tidak, memang baik-baik saja kok.

“Punya hutang kan?”

Pak Rahman menghela napas. Ia memang tidak mengatakan apa-apa tentang situasi perusahaan saat ini, tapi maksudnya agar istrinya tidak kepikiran. Tapi rupanya sang istri mendengar ketika mereka bicara, bahkan tentang hutang itu.

“Bu, kan Ibu harus mengerti, bahwa dokter melarang ibu terlalu banyak pikiran. Jadi apapun beratnya beban bapak, ibu tidak perlu ikut memikirkannya. Memang benar, ada yang menyelewengkan uang perusahaan, sudah bertahun-tahun, sehingga kita punya hutang delapan ratus juta. Tapi semuanya sudah selesai, Damian bersedia membayarnya.”


Wajah bu Rahman tampak pias. Berita bahwa perusahaan suaminya tertolong oleh Damian, membuat perasaannya jadi tidak karuan. Ada rasa tak enak menyesak dadanya, dan itulah yang menyebabkan napasnya tersengal-sengal.

“Mengapa harus dia,” kata batinnya.

“Bu, ibu harus tenang. Kemungkinan besar perusahaan kita akan tertolong. Damian dan Raya yang akan menanganinya.”

Bu Rahman menatap langit-langit kamar. Bayangan Damian melintas. Damian yang selalu diolok-oloknya, Damian yang serba tak ada baik-baiknya bagi dirinya, Damian yang selalu dianggap salah, baru saja mengangkat tubuhnya saat jatuh. Baru saja mengangkat tubuhnya saat badannya lemah dan tak mampu melangkah sendiri ke dalam kamar.

Air mata bu Rahman merebak.

“Bu, ibu tidak usah memikirkan apapun. Damian juga melarang aku menjual mobil kita. Dia dan Raya akan menyelesaikan semuanya. Ibu harus senang. Bapak juga sudah merasa lega. Besok pagi semuanya akan mulai dibenahi.”

Menetes air mata dari mata tuanya, mengalir membasahi wajahnya. Pak Rahman mengusapnya lembut.

“Bener ya, jangan memikirkan apa-apa. Sekarang ibu istirahat saja dulu, aku mau melanjutkan pembicaraan dengan Raya dan Damian.”

“Raya suruh bawa mobilnya,” kata bu Rahman lirih.

“Nanti bapak minta agar dia membawanya, barangkali dengan kesibukan baru, Raya membutuhkannya.”

“Harus hati-hati, Raya sedang mengandung,” kata bu Rahman sebelum pak Rahman mencapai pintu. Pak Rahman mengangguk.

“Istirahat dan tidurlah,” katanya lalu menutup pintu.

Begitu pak Rahman muncul, Damian dan Raya langsung menanyakan keadaan ibunya.

“Sudah lebih tenang, bapak minta ibu istirahat dan tidur. Dia tidak pernah tahu keadaan kantor seperti apa, tadi terkejut mendengar perusahaan punya hutang delapan ratus juta,” terang pak Rahman.

“Semoga ibu segera membaik. Kalau memang perlu, ke dokter lagi saja.”

“Dokter sudah memberinya obat, tapi kalau memang masih belum membaik, nanti aku akan membawanya ke dokter.”


“Baiklah Pak, barangkali Raya juga harus segera istirahat, kami mohon pamit dulu. Besok pagi kami akan ke kantor untuk ketemu Bapak dan berbincang lagi.”

“Kamu tidak ke bengkel?”

“Sejak Raya dinyatakan hamil, saya tidak bekerja lagi. Saya tidak bisa membiarkan Raya sendirian sehari penuh. Jadi saya hanya pergi saat kuliah.”

“Baiklah, bapak senang kamu memperhatikan istri kamu. Besok kita bertemu lagi kan?”

“Iya Pak.”

“Oh ya, barangkali Raya perlu membawa mobilnya juga. Kasihan kalau bolak balik membonceng kamu, atau harus naik taksi.”

“Terserah Raya saja. Saya baru  belajar nyetir ketika di bengkel, Biar Raya yang memakainya."


“Bawa saja sekarang. Di sini tidak ada yang memakai.”

“Kamu bisa membawanya, Ray? Hati-hati, kamu kan sedang mengandung.”


“Tinggalkan saja motor kamu di sini, kamu yang bawa mobilnya.”

“Besok kan motornya aku pakai kuliah?”

“Besok saja diambil, atau suruh membawa sopir ke rumah.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

***

Esok harinya, Damian dan Raya pergi ke kantor, bertemu dengan pak Rahman, berbincang tentang semua permasalahan. Kecuali itu, dengan dibantu Damian, Raya mempelajari seluk beluk usaha ayahnya dengan seksama.

“Tapi kamu tidak boleh kecapekan Ray, tengah hari kamu harus pulang.”

“Iya, bersama kamu, sekalian pergi ke kampus kan?”

“Ya. Untuk sementara kita sudah mengerti dasar-dasarnya.”

“Benar, nanti kalian pulang saat makan siang saja. Besok kalian harus datang, kita akan rapat dengan seluruh staf, dan menata semuanya dengan sebaik-baiknya.”

“Ya Pak.”

Sekretaris masuk dan mengatakan bahwa ada tamu dari kantor polisi.

“Baiklah, suruh mereka masuk,” kata pak Rahman.

“Sudah ada berita tentang pak Marsono rupanya?” tanya Raya.

“Masih buron, tapi polisi akan terus memburunya.”

Dua orang polisi masuk, Damian dan Raya ikut menemui mereka. Polisi hanya bertanya tentang kronologi, bagaimana Marsono bekerja. Karena itu pak Rahman segera memanggil staf keuangan, yang pastinya sudah mendapat teguran karena begitu ceroboh mengeluarkan uang.

***

Damian lebih dulu mengantarkan Raya pulang, kemudian mengambil sepeda motornya untuk dibawanya ke kampus. Mobil Raya hanya dipergunakan saat ke kantor atau ke Salon, yang itupun Raya diminta untuk mengurangi juga kegiatannya di sana. Damian sangat menjaga istrinya, dan juga bayi yang dikandungnya.

Ketika sampai di rumah mertuanya, Damian memberanikan diri masuk ke rumah, untuk melihat ibu mertuanya. Diterima dengan baik atau acuh tak acuh, Damian tak peduli.

 Suasana sepi, barangkali pak Rahman masih berada di kantornya. Pasti banyak yang dibicarakan dengan para staf kantornya, yang tidak bisa diikutinya karena Raya harus segera beristirahat. Damian masih khawatir mengingat Raya baru saja merasa segar setelah selama tiga bulan lebih merasa mual dan muntah-muntah.

Ia melihat bik Sarti sedang menata makan siang, dan sangat terkejut melihat Damian tiba-tiba muncul.

“Ya ampun, tuan mengejutkan saya.”

“Tuan lagi sih Bik,” tegur Damian tak suka, tapi bik Sarti tetap pada pendiriannya, bahwa ia harus memanggil tuan kepada suami nona majikannya.

“Biarkan saja, saya tidak bisa merubahnya lagi. Tuan mencari Nyonya?”

“Apakah ibu sudah kelihatan sehat?”

“Belum sepenuhnya sehat, tapi menolak dibawa ke dokter. Katanya sudah mendingan.“

“Sekarang tidur?”

“Saya akan melihatnya,” kata bik Sarti yang segera masuk ke kamar bu Rahman. Ketika ia masuk itu, dilihatnya bu Rahman hanya berbaring, tapi matanya terbuka.

“Nyonya tidak tidur?”

“Aku justru mau keluar kamar, capek tiduran terus,” katanya sambil bangkit.

“Jangan Nyonya, nanti kalau tuan tahu, saya dimarahi. Tuan sudah berpesan, bahwa saya disuruh menjaga Nyonya.

“Aku lelah.”

“Ada tamu untuk Nyonya, biar masuk ke sini ya.”

“Siapa?”

Bik Sarti membuka pintunya, dan mempersilakan Damian masuk.

Bu Rahman menatapnya sungkan. Ia masih teringat bagaimana dirinya selalu mengata-ngatai Damian dengan ucapan yang tidak enak. Dan sekarang, kenyataannya si menantu yang dia benci itu menjadi penolong perusahaan suaminya yang hampir runtuh. Ia bahkan bersikap baik kepada dirinya, dan menatapnya tanpa ada dendam dan sakit hati pada wajahnya yang bersih dan tampan. Damian tersenyum, lalu mendekat dan meraih tangannya, menciumnya dengan hangat.

“Bagaimana keadaan Ibu?”

“Mengapa kamu kemari?” tanyanya tanpa berani menatap wajah Damian secara langsung, Ia tak punya kata-kata untuk menyambut kedatangannya, atau tak bisa merangkai kata manis ketika melihatnya.

“Saya akan mengambil sepeda motor yang saya tinggalkan, tapi memerlukan menjenguk Ibu terlebih dulu, karena sesungguhnya kami menghawatirkan keadaan Ibu.”

Bu Rahman terperangah. Hatinya terasa bagai ditusuk dengan ribuan jarum, pedih dan berdarah. Ia merasa bahwa kebaikan yang ditunjukkan Damian justru menghunjam perasaannya, menjatuhkan kecongkakannya sehingga hancur berkeping-keping, bahkan lumat menjadi debu.

“Kalau memang masih merasa tidak enak, lebih baik ke dokter. Saya masih punya waktu untuk mengantarkan Ibu ke rumah sakit.”

Bu Rahman menggeleng keras.

“Ibu masih pucat.”

“Aku sudah tidak apa-apa.”

“Baiklah.”

“Mengapa kamu begitu memperhatikan aku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku sangat membenci kamu?” akhirnya bu Rahman mengeluarkan kata-kata yang lebih panjang, tapi masih jauh dari kata ramah.

Damian menarik kursi kecil yang ada di kamar itu, lalu duduk di hadapan ibu mertuanya.

“Saya tidak merasa begitu.”

“Apa maksudmu?”

“Saya tidak merasa bahwa ibu membenci saya.”

“Tapi aku tidak suka sama kamu.”

“Ibu hanya tidak suka pada kemiskinan saya, dan sangat menghawatirkan kehidupan Raya apa bila hidup bersama saya. Menurut saya itu hal yang wajar. Setiap ibu akan melakukan hal yang sama. Saya tidak tersinggung, apa lagi marah.”

Bu Rahman menatap wajah Damian.

“Kamu menjadi sombong karena kamu ternyata punya uang,” kata bu Rahman seperti bergumam.

“Saya tidak pernah menyombongkan apapun. Saya tidak pernah mengatakan kepada siapapun ketika saya bisa meneruskan sekolah saya. Orang lain tahu karena ada orang yang melihat. Saya tidak pernah merasa sombong ketika mengajak Raya naik pesawat, karena saya ingin menyingkat waktu sehubungan dengan masa libur saya yang tidak lama. Dan saya juga tidak memamerkannya kepada siapapun. Ibu tahu, hanya karena kebetulan bertemu. Apa yang saya sombongkan Bu, saya tetap hidup sederhana, mempergunakan motor butut saya saat ke mana-mana, makan seadanya seperti orang-orang pada umumnya.”


Dan itu benar, tak ada yang salah dari ucapannya. Bu Rahman mengakuinya.

“Mengapa kamu baik kepada saya?”

“Karena Ibu adalah mertua saya, yang juga berarti orang tua saya.”

Bu Rahman menghela napas.

“Ternyata kamu punya banyak uang.”

Damian tak suka mendengar pertanyaan itu, tapi tak enak untuk tidak menjawabnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Raya.

“Ya Ray," sapanya menjawab telpon istrinya.

“Kamu di mana?”

“Masih bersama ibu.”

“Bukankah kamu harus ke kampus?”

“Iya, aku segera berangkat.”

Damian menutup ponselnya.

“Bu, ternyata saya harus pamit. Saya harus ke kampus dulu,” katanya sambil berdiri, lalu mengembalikan kursi kecil yang tadi diambilnya, ketempatnya semula.

Ia meraih tangan ibu mertuanya, dan menciumnya.

Ketika Damian hampir sampai ke pintu, bu Rahman memanggilnya.

“Damian.”

Damian berhenti, menoleh ke arah ibu mertuanya.

“Aku minta maaf,” katanya sambil berlinang air mata.

Damian membalikkan tubuhnya, mendekati sang ibu mertua, kemudian meraih tangannya.

“Ibu tidak bersalah apa-apa,” katanya lembut.

***

Pak Rahman pulang ke rumah tak lama kemudian. Ia langsung masuk ke kamar, dan dengan heran mendapati sang istri sedang menangis.

“Ada apa? Ibu merasa sakit? Ke dokter saja ya?”

Bu Rahmen menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mengapa Ibu menangis

“Tadi Damian datang kemari.”

“Benarkah? Oh, iya, dia bilang mau mengambil sepeda motornya.

“Ibu sangat malu.”

“Memangnya kenapa?”

“Ibu jahat sama dia, sementara dia baik kepada Ibu.”

Pak Rahman tersenyum. Terkadang untuk sampai ke sebuah titik, ada proses yang harus kita lalui.


***


Besok lagi ya


at August 04, 2023

Sebuah Pesan (60)

SEBUAH PESAN  60


(Tien Kumalasari)


 


Damian berdiri tegak di pintu, tapi ketika kemudian pak Rahman melihatnya, dengan isyarat sebelah tangannya, pak Rahman memintanya duduk di hadapannya. Damian dengan ragu mendatanginya. Tapi kemudian dia merasa bahwa tindakannya menemui ayah mertuanya ini adalah tidak benar. Dia hanya tergerak ingin mengetahui tentang apa kesulitan yang dialami sang ayah mertua, tapi ketika melihat suasana tak mengenakkan di ruangan itu kemudian ia bertanya kepada dirinya sendiri, bahwa tak seharusnya dia melibatkan diri dalam usaha bisnis mertuanya. Bukankah belum tentu pak Rahman berkenan melihatnya ikut campur? Damian ingin sekali keluar dari ruangan itu, tapi sudah kepalang basah, dan tampaknya pak Rahman juga tak keberatan dia duduk di depannya.


“Mana Marsono. Panggil dia sekarang,” katanya melalui interkom yang ditujukan entah kepada siapa.


“Apa? Tiga hari tidak ke kantor? Tadi pagi aku masih menelponnya dari rumah, dia bilang ada di kantor. Apa? Dia bohong? Kurangajar. Suruh orang melaporkannya pada polisi. Segera.”


Pak Rahman meletakkan interkom lalu mengusap wajahnya kasar.


“Maaf Pak, apa saya mengganggu?”


“Tidak … tidak. Kamu dari mana?”


“Saya … “ tiba-tiba Damian merasa ragu untuk mengatakan bahwa dia memang ingin menemuinya.


“Sebenarnya … saya hanya mampir, sebelum berangkat kuliah.”


“Oh. Raya baik-baik saja?”


“Ya, dia semakin sehat, sudah bisa makan banyak.”


“Muntah-muntah?”


“Tidak Pak, tidak lagi.”


“Perusahaan semakin kacau. Aku salah. Sudah merasa sejak setahun lalu, bahwa perusahaan ini mundur, tapi aku tetap melepaskannya, dan tetap menyerahkan kepada dia untuk mengelolanya.”


“Tidak berhasil?”


“Perusahaan ini kolaps. Aku baru saja bicara dengan auditor. Perusahaan benar-benar hancur, bahkan punya hutang sebanyak delapan ratus juta rupiah.”


“Ya Tuhan.”


“Kas kosong, dan aku tidak bisa apa-apa, kecuali menjual bisnis ini kepada pihak lain.”


“Jangan Pak, sudah berjalan bagus. Sayang kalau dijual.”


“Mau bagaimana lagi? Aku ingin meminta bantuan Abi, tapi tidak enak juga. Dia juga sedang belajar meneruskan bisnis ayahnya. Jadi kemungkinan besar lebih baik aku lepaskan saja bisnis ini. Aku sudah lelah, walau sebenarnya sayang sekali. Perusahaan ini didirikan oleh almarhum bapak, lalu menjadi besar dan diwariskannya sama aku. Kalau sampai aku menjualnya, sebetulnya aku merasa sayang juga, dan merasa berdosa pada almarhum, karena tidak bisa menjaganya dengan baik.”


Pak Rahman tampak menghela napas lelah.  


“Dulu aku pernah punya pemikiran, perusahaan ini akan aku serahkan kamu untuk mengelolanya, tapi karena kamu masih kuliah, aku tahan keinginan itu.”


Pak Rahman kembali menghembuskan napas panjang.


“Hanya saja, sekarang tidak mungkin, karena perusahaan sudah rusak seperti ini.”


Damian menatap mata tua yang tampak lelah itu dengan perasaan iba.


Lalu tiba-tiba timbul keberaniannya.


“Kalau Bapak setuju, biarkan Raya mengelolanya.”


Pak Rahman terkejut.


“Dam, sekarang sudah tidak mungkin lagi. Perusahaan ini sudah hancur. Siapa yang bisa melanjutkan usaha dengan kondisi hancur dan bahkan menanggung hutang? Dijual itu hal terbaik yang aku pikirkan.”


“Saya akan bicara sama Raya. Saya kira Raya akan bisa mengatasinya,” kata Damian mantap.


“Raya mana mungkin punya uang sebanyak itu? Walau dia punya salon, apa mungkin dia bisa melakukannya?”


“Raya adalah sarjana managemen, apakah Bapak lupa?”


“Aku tahu, tapi masalah hutang itu kan berat.”


“Bapak, sekarang lebih baik pulang saja dan melepaskan semua urusan perusahaan. Saya akan bicara dengan Raya. Saya yakin Raya bisa mengatasinya.”


Pak Rahman menatap menantunya tak percaya. Tapi Damian justru menatapnya dengan senyuman mantap.


“Urusan karyawan yang tampaknya kabur itu akan menjadi proses hukum, polisi yang akan menangkapnya.”


“Tapi jangan berharap dia masih memiliki uang untuk dikembalikan. Ia sudah menghambur-hamburkannya dan bermain perempuan. Itu yang sudah aku dengar,” kata pak Rahman yang mengira bahwa Damian merasa, dengan ditangkapnya Marsono maka uang perusahaan akan kembali.


“Tidak, bukan mengharapkan uangnya kembali, hanya berharap dia mendapatkan pelajaran. Sekarang lebih baik Bapak pulang dan beristirahat,” kata Damian sambil berdiri.


Pak Rahman terus menatapnya, seperti baru saja bangun dari tidur dengan mimpi buruknya.


“Saya akan ke kampus sebentar, lalu akan bicara dengan Raya. Segera, saya akan mengabari Bapak. Sekarang saya permisi dulu.”


Damian meraih tangan pak Rahman, lalu menciumnya, kemudian berlalu.


Pak Rahman menatap punggung tegap itu dengan berbagai perasaan yang memenuhi benaknya. Apa benar Damian bisa mengatasinya? Apa lagi Raya. Dia masih sangat muda. Tapi apa yang dikatakan Damian, sedikit membuat dadanya terasa lega. Paling tidak ada yang membantu memikirkannya.


***


Masih siang ketika pak Rahman pulang ke rumah. Wajahnya tampak kusut dan lelah. Bu Rahman yang sedang duduk di ruang tengah, terkejut melihat sang suami sudah pulang di saat siang. Ia segera berteriak memanggil bik Sarti.


“Sarti, siapkan makan siangnya. Rupanya tuan pulang siang ini.”


“Baik, Nyonya,” jawab bik Sarti sambil berteriak dari belakang.


Pak Rahman naik ke teras, duduk, kemudian mengusap wajahnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Bagaimana keadaan perusahaan, Pak? Bisa teratasi?” tanya bu Rahman yang kemudian menghampirinya.


Pak Rahman menatap langit-langit rumah, lalu memejamkan matanya. Ia tak sampai hati mengatakan keadaan usahanya yang berantakan. Khawatir membebani pikiran sang istri, sementara dokter selalu berpesan agar perasaan hati sang istri harus benar-benar dijaga.


“Bapak tampak lelah.”


“Iya, lelah, tapi tidak apa-apa.”


“Benarkah tidak apa-apa?”


“Baik-baik saja, semoga segera teratasi.”


“Tapi Bapak tampak tidak baik-baik saja.”


“Yah, maklum lah Bu, bapak kan sudah tua, seharusnya sudah tidak memikirkan itu semua. Saatnya istirahat.”


“Bukankah ada yang Bapak percaya untuk mengelolanya?”


“Ada sih. Tapi kan tidak semua irang bisa mengendalikan sebuah usaha.”


“Maksudnya … dia tidak bisa? Marsono kan?”


“Kurang terampil,” hanya itu yang dikatakan pak Rahman.


“Apakah Bapak ingin menggantikannya dengan orang yang lebih terampil?”


“Tentu saja. Sedang bapak pikirkan. Mungkin Damian akan bisa mengatasinya.”


“Apa? Bapak jangan bercanda. Ini sebuah perusahaan besar. Damian belum berpengalaman dalam mengelola sebuah usaha, nanti malah bangkrut. Damian bisa apa?” kata bu Rahman yang tetap belum bisa menyukai menantunya.


Pak Rahman tak menjawab. Istrinya takut usahanya bangkrut? Padahal itu sudah terjadi.


“Mungkin mobil kita akan aku jual.”


“Mobil, dijual? Bapak mau pakai apa?”


“Ada mobilnya Raya yang dia tidak mau memakainya.”


“Mengapa harus menjual mobil?”


“Yah, banyak alasannya. Tapi Ibu tidak usah ikut memikirkannya. Ini urusan bapak. Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” katanya sambil mengangkat badannya.


Bik Sarti keluar dengan membawa segelas jus jambu.


“Silakan Tuan, setelah itu, Tuan bisa makan, semua sudah Sarti siapkan.”


“Baik, Sarti, aku habiskan jus nya ini dulu, baru makan.”


“Baik,” kata bik Sarti sambil beranjak ke belakang.


Pak Rahman menyesap jus jambunya, dan tampak segar.


“Bapak akan kembali ke kantor, setelah makan?”


“Tidak, aku ingin istirahat dulu.”


“Baguslah, jangan terlalu capek. Sekarang ayo kita makan.


Pak Rahman mengikuti sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke rumah. Apa yang dikatakan Damian selalu diingatnya. Benarkah Damian sanggup mengatasi semuanya? Entahlah. Dia sudah memutuskan, kalau memang sudah tidak mampu atau susah tertolong, dia akan menjualnya, lalu istirahat saja di rumah.


***


Sore hari itu sepulang dari kuliah, Damian menceritakan perihal usaha ayah mertuanya yang hampir tidak tertolong. Uang perusahaan menipis, dan masih punya hutang delapan ratus juta rupiah. Dulu, barangkali uang segitu bukan masalah bagi pak Rahman. Tapi sekarang, tak ada lagi yang bisa diharapkan.


Raya merasa sangat prihatin mendengarnya. Usaha itu adalah warisan almarhum kakeknya, yang dipercayakan kepada ayahnya agar dikelola sebaik-baiknya. Memang sih, pada awalnya baik-baik saja, dan kelihatan sangat maju pesat. Tapi tiba-tiba seperti lampu yang kehabisan minyak, nyala usaha itu berkedip-kedip, nyaris mati.


“Apa yang bisa kita lakukan?”


“Kamu putrinya. Kamu yang harus bisa mencegah kejatuhan usaha itu.”


“Aku? Apa kamu bercanda?”


Damian tertawa. Merangkul istrinya dengan mesra.


“Ray, kita masih punya sekitar satu milyar lebih, setelah sebelumnya kita pergunakan untuk usaha salon.”


“Apakah pemasukan salon bisa menutup hutang perusahaan bapak?”


“Tidak. Belum bisa. Bukankah aku tadi bilang tentang uang kita? Kita masih bisa menutup hutang itu, bukan?”


“Dam, itu uangmu, yang pasti akan kamu pergunakan untuk banyak hal. Kuliah kamu juga belum selesai.”


“Ray, itu masih cukup. Jangan biarkan bapak juga ikut hancur karena usahanya tidak tertolong. Kamu bisa melakukannya. Bawa uang itu kepada Bapak, lalu kamu tawarkan kepada Bapak agar kamu diijinkan untuk ikut mengelolanya.”


“Kamu yakin, aku bisa melakukannya?”


“Kamu pasti bisa. Kamu punya bekal untuk itu.”


“Sudahkah kamu pikirkan tentang uang itu? Bukankah dengan begitu uang kamu akan habis?”


“Bukan uang aku, tapi uang kita. Bukankah kita bisa makan cukup dengan hasil salon itu? Lalu apa lagi kebutuhan kita? Masih ada sisa untuk keperluan anak kita. Yakinlah bahwa kita tidak akan kehilangan dengan membantu orang tua kamu.”


Raya memeluk suaminya dengan penuh rasa haru. Sang suami yang selalu tersakiti karena ulah ibunya, sekarang akan menjadi pahlawan yang mempertahankan tetap tegaknya usaha ayahnya. Raya merasa, bahwa suaminya adalah laki-laki yang luar bisa.


“Dam, tahukah kamu, bahwa kamu adalah karunia terbesar dan terindah dalam hidup aku?” bisik Raya sambil merangkul suaminya lebih erat.


“Kamulah karunia terbesar dan terindah untuk hidup aku. Kita bisa menjalani semuanya dengan sangat baik. Melewati semua ujian yang kita terima dengan segala keikhlasan. Dan percayalah bahwa kita akan memetik buah manis dari benih cinta yang kita taburkan. Suka dan duka akan kita jalani bersama. Jangan takut kehilangan harta untuk sesuatu yang mulia,” bisik Damian di telinga sang istri, lalu dikecupnya ujung kepalanya dengan manis.


***


Bu Rahman sedang duduk di tepi kolam, di sebuah batu yang memang dipergunakan untuk tempat duduk. Angin sore yang semilir, menghilangkan gerah di siang harinya, dan menggantikannya dengan kesegaran, ketika angin itu mengelus dedaunan di pohon rindang, dan bunga-bunga yang berayun pelan oleh hembusannya.


Tiba-tiba rasa rindunya kepada Raya menyisiri hatinya. Dulu, Raya sangat suka duduk di tepi kolam ini, memberi makan ikan-ikan koi yang berseliweran lincah di dalam kolam, manatap bunga-bunga mekar yang menghiasi seisi taman. Bu Rahman juga ingat, akan memperluas taman bunga kesukaan gadis bungsunya, dengan mempergunakan lahan yang masih ada di samping rumah. Tiba-tiba wajah bu Rahman murung. Kegagalannya membangun taman yang baru itu urung, gara-gara Damian pamit keluar dari pekerjaannya.


“Huhh, akal bulus dia. Supaya bebas merayu anak gadisku,” gerutunya kesal.


Tiba-tiba ia mendengar sepeda motor memasuki halaman. Suara mesinnya yang keras, menunjukkan bahwa yang masuk adalah sepeda motor butut milik menantunya. Bu Rahman menghela napas kesal. Bergeming di tempatnya semula, tak ingin melihat menantunya datang.


Bu Rahman masih menatap ikan-ikan koi yang tadi ditaburinya makanan, ketika kemudian mendengar langkah bik Sarti mendekat.


“Nyonya, ada tuan Damian dan non Raya yang datang,”


Bu Rahman menoleh sejenak, tapi tak hendak beranjak.


“Sembarangan dia itu. Istri sedang hamil diboncengin sepeda motor butut. Awas saja kalau ada apa-apa,” omelnya.


“Rumah tuan Damian kan tidak jauh dari sini Nyonya, jadi tidak apa-apa kalau membonceng sepeda motor.


“Tidak apa-apa … tidak apa-apa ….”


“Nyonya ditunggu tuan di ruang tamu.”


"Aku di sini saja."


“Tapi tuan bilang, Nyonya diminta datang ke sana,” bik Sarti seperti memaksa.


Tanpa menjawab, bu Rahman berdiri. Wajahnya gelap ketika berjalan menuju rumah.


***


Ketika bu Rahman akhirnya menyusul ke ruang tamu, suami dan anak menantunya sedang membicarakan sesuatu. Sesuatu yang kemudian membuatnya terkejut.


“Bapak tidak usah khawatir. Hutang perusahaan akan dibayar oleh mas Damian,” kata Raya sambil bergayut di lengan ayahnya.


Bu Rahman berdiri tegak di pintu. Hutang perusahaan akan dibayar Damian? Jadi perusahaan punya hutang? Mengapa suaminya tak mengatakan dan justru bilang bahwa perusahaannya baik-baik saja? Lalu Damian akan membayarnya?


“Delapan ratus juta itu banyak, aku akan menjual mobil aku dulu, barangkali bisa sedikit meringankan,” kata pak Rahman.


Bu Rahman melongo. Jadi perusahaan punya hutang delapan ratus juta?


“Jangan dijual Pak, nanti kalau Bapak mau pergi ke mana-mana, bagaimana. Biarlah Raya menyelesaikan semuanya,” sambung Damian.


Sebuah kekompakan yang luar biasa. Kalau Raya mengatakan Damian akan membayarnya, maka Damian mengatakan bahwa Raya yang akan menyelesaikannya.


Bu Rahman berpegangan pada pintu penghubung ruang tengah itu, karena merasa bahwa bumi tempatnya berpijak seperti bergoyang.


***


Besok lagi ya.

Sebuah Pesan (59)

 Kejora Pagi

Wednesday, August 2, 2023

SEBUAH PESAN 59


(Tien Kumalasari)

 

Damian sangat gelisah, karena Raya kemudian tampak lemas dan tak bertenaga. Dia memesan segelas kopi panas, yang kemudian diberikannya kepada sang istri. Raya tampak lebih segar, tapi dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Damian.

Seorang ibu yang duduk di sebelah mereka, nyeletuk.

“Apa istri Anda hamil?”

Damian dan Raya terkejut.

“Hamil? Seperti dulu ketika jatuh sakit, Abi mengira dirinya hamil, ternyata tidak,. Karena itulah Damian hanya menerimanya dengan senyuman ringan.

“Tidak. Belum kok Bu, dia hanya mabuk,” jawab Damian.

“Selalu begitu setiap naik pesawat?”

“Tidak sih, baru kali ini,” jawab Raya sambil tersenyum.

“Siapa tahu ini gejala awal kehamilan,” jawab si ibu.

“Mohon doanya ya Bu,” kata Damian sambil merangkul istrinya. Raya hanya diam. Setelah muntah memang rasanya lebih ringan.

“Kita sampai sebentar lagi. Kamu pasti kecapekan.”

“Mungkin.”

“Sesampai di rumah langsung tidur ya.”

“Makan dulu, perutku lapar,” keluhnya.

“Iya lah, isi perutmu habis terbuang," kata Damian sambil tertawa.

Tetapi ketika mereka menaiki taksi, Raya kembali merasa mual. Untunglah Raya masih bisa bertahan, dan kembali muntah sesampai di rumah.

Damian menuntunnya ke kamar, membantunya membersihkan diri di kamar mandi dan menggantikannya dengan baju rumahan yang lebih longgar.

“Berbaringlah dulu, aku buatkan kamu minuman hangat.


Damian begitu sibuk merawat istrinya. Ia juga membawakan roti yang diharapkan bisa mengganjal perut Raya yang mengeluh lapar.

"Dam, aku kan tidak apa-apa. Sudah enteng rasanya setelah muntah."

"Tapi dari kita berada di pesawat kamu terus-terusan muntah. Nanti sore kita ke dokter. Ya.”

“Kamu nih, sedikit-sedikit dokter,” gerutu Raya sambil membalikkan tubuhnya memunggungi sang suami.

“Kamu tidak boleh begitu. Biarpun hanya kecapekan atau masuk angin, tetap harus periksa ke dokter, apalagi kamu pernah sakit, dulu itu.”

“Tapi kalau hanya masuk angin atau kecapekan, kan bisa minum obat masuk angin di toko obat.”

“Siapa yang tahu kamu masuk angin atau kecapekan, atau entah kenapa, kalau tidak konsultasi dengan dokter? Pokoknya nurut, nanti sore kita ke dokter. Mumpung aku masih libur sehari ini. Besok aku sudah mulai kerja dan kuliah.”

Raya diam. Kata-kata Damian kali ini sangat tegas dan tandas, Raya tak berani membantahnya.

***

Ketika menunggu pemeriksaan, dua kali Raya muntah-muntah. Pasien dokter lumayan banyak, dan mereka harus menunggu dua pasien lagi, setelah muntah yang ke dua kalinya.

“Sabar ya Ray, hanya tinggal dua pasien lagi.”

“Sepertinya aku sakit lambung.”

“Semuanya harus dipastikan setelah dokter memeriksanya nanti.”

“Habisnya aku muntah terus nih.”

“Sabar, tuh tinggal satu lagi.”

Damian lega ketika akhirnya dipanggil masuk ke ruang periksa. Dokter wanita yang sangat ramah, segera memeriksanya.

“Sudah lama sakitnya?”

“Rasanya tidak sakit, hanya mual dan muntah-muntah terus,” jawab Raya lirih.

Dokter itu tersenyum, lalu menyudahi pemeriksaannya atas diri Raya.

“Sepertinya, Bapak harus periksa ke laborat, kemudian memeriksakan hasil laborat itu ke dokter kandungan,” katanya sambil tersenyum.

Kali ini Raya dan Damian benar-benar berteriak.

“Kandungan?”

“Mengandung?”

“Kemungkinannya ibu Raya mengandung. Tapi untuk memastikannya, besok periksa ke laborat dulu, baru ke dokter kandungan. Tapi terserah Bapak saja. Ke dokter kandungan dulu juga tidak apa-apa. Dia punya alatnya untuk melihat apakah pasiennya mengandung atau tidak.”

Raya sudah kembali duduk di samping Damian. Berdebar rasanya mendengar apa yang dikatakan dokter.

Damian yang tidak sabaran, langsung mengajaknya ke seorang dokter kandungan.

“Ini sudah malam, apa masih buka?”

“Kita lihat saja nanti, daripada menunggu besok,” kata Damian setelah browsing di ponselnya, untuk mencari dokter kandungan terdekat.

“Nah, ketemu. Ini saja, dokter Diana Anastasia Spesialis Opgyn.”

***

Damian segera meminta agar taksi yang disewanya sejak dari rumah, segera meluncur ke tempat dokter tersebut, yang kebetulan tempat prakteknya tidak jauh dari tempat dokter sebelumnya.

“Syukurlah, masih buka. Kamu tidak kedinginan?”

“Aku ingin muntah lagi,” kata Raya begitu turun dari taksi.

Damian segera memapahnya, langsung ke toilet di dekat ruang tunggu dokter.

Luar biasa perasaan Damian. Ia berharap, semoga Raya memang benar-benar hamil. Tapi kali ini sangat berbeda dengan yang pernah diceritakan Kamila saat awal kehamilan. Dia tidak muntah, hanya lemas dan pusing, serta sedikit mual. Jangan-jangan Raya tidak mengandung. Rasa was-was menunggu masuk ke ruang dokter menyelimuti perasaan Damian. Ia merangkul bahu istrinya yang setelah muntah selalu merasa lemas, tapi perutnya lebih terasa lega.

Debar hati Damian bertambah keras, ketika Raya sudah mulai diperiksa. Setelah melihat gambaran yang ada di alat USG, dokter Diana segera kembali duduk, lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Damian.

“Selamat, Anda akan menjadi seorang ayah.”

Senyum Damian melebar. Tanpa malu ia merengkuh istrinya yang sudah duduk di sampingnya.

“Ray, kita akan punya bayi.”

Dokter tersenyum melihat tingkah keduanya. Ia segera meresepkan obat yang harus diminum, dan memberi petunjuk cara minumnya, disertai banyak pesan yang pastinya biasa diucapkan kepada setiap ibu muda pada awal kehamilannya.

Damian terus merangkul istrinya, sejak keluar dari ruang praktek dokter, sampai kemudian menaiki taksi. Ada bahagia menyertai setiap langkah mereka.

“Kita langsung pulang saja, obatnya biar aku beli sendiri saja, tidak usah mampir apotek sekarang, takut kamu kelamaan dan muntah-muntah lagi."

***

Pagi hari itu Damian sendiri mengantarkan oleh-oleh untuk keluarga Rahman. Pak Rahman menyambut gembira atas kepulangan mereka, tapi bu Rahman hanya menerimanya dengan datar. Bik Sarti yang juga mendapat oleh-oleh sangat gembira. Ia menerimanya sambil melongok-longok.

“Non Raya mana?”

“Tidak ikut Bik.”

“Memangnya Raya kenapa, kok tidak ikut?” tanya pak Rahman.

“Raya di rumah Pak, sedang sakit.”

“Sakit apa?” pak Rahman berteriak, tapi bu Rahman teriakannya lebih keras lagi. Barangkali sudah bersiap akan menyemprot menantunya yang dianggap membuat anak bungsunya sakit.

Tapi sebelum semprotan itu dikeluarkan, bu Rahman terkejut mendengar apa yang dikatakan menantunya.

“Tapi sakitnya sakit yang menyenangkan. Raya hamil.”

“Hamil?” bukan hanya pak Rahman dan bu Rahman yang berteriak, tapi juga bik Sarti.

“Aduuh, ada tambahan oleh-oleh yang lebih indah. Berita kehamilan non Raya ini, ya Tuan?” kata bik Sarti.

Pak Rahman tak mampu berkata-kata. Ia memeluk menantunya dengan hangat.

“Selamat ya,” hanya itu yang diucapkan diantara pelukan hangatnya.


Sementara itu, karena sibuk menatap Damian, tak seorangpun tahu saat bu Rahman mengusap air matanya.

***

Dengan keadaan istrinya yang hamil ini, Damian memutuskan untuk berhenti bekerja. Hal itu dikatakan Damian ketika memberikan oleh-oleh untuk Agus, sahabatnya.

Agus, tentu saja tak bisa mencegahnya, karena Damian tampak harus lebih banyak memperhatikan istrinya.

Raya senang, Damian lebih sering menungguinya di rumah, menemaninya saat muntah-muntah, walau tidak sesering sebelumnya, karena dokter telah memberinya obat. Damian hanya meninggalkannya saat kuliah.

Bu Rahman yang pagi itu pergi ke pasar sendiri, ketika pulang ia membawa banyak jenis buah-buahan.

“Sarti, tinggalkan dapur sejenak. Pergilah ke rumah Raya, bawakan buah-buahan ini. Orang ngidam pasti lebih suka makan buah.”


“Wah, buah-buah segar Nyonya. Ini rasanya agak asem, gitu, pasti non Raya suka.”

“Ya sudah, cepat ganti bajumu, tidak usah memberikan banyak komentar.”

“Baik Nyonya, saya ganti baju sebentar.”

“Cepatlah, sopir sudah menunggu, dan kamu tidak boleh lama-lama, karena tuan sudah berpesan sopir harus segera kembali ke kantor.”

“Iya Nyonya, segera.”

Seperti kijang, bik Sarti melangkah dengan lincah sambil membawa sekeranjang buah-buahan untuk non cantiknya.

Bu Rahman menatapnya dengan perasaan tak menentu. Kehamilan Raya sedikit menurunkan rasa tidak sukanya kepada sang menantu. Walau sangat susah menghilangkan egonya.

***

 Damian terkejut ketika melihat bik Sarti datang dengan diantar sopir. Ia membawa keranjang berisi penuh buah-buahan.

Damian menunggunya di teras, dan bik Sarti tergopoh mendekati.

“Dari mana bik?” tanya Damian.

“Dari rumah, Tuan, ini, membawa buah-buahan untuk non Raya.”

“Bik, kenapa memanggilnya jadi tuan? Aku masih Damian yang dulu, mengapa berubah sih Bik?” tanya Damian sambil tersenyum.


“Jangan begitu, Tuan. Sekarang sudah berbeda. Sudah, jangan protes, ini, mohon diterima saja. Mana non Raya?”

“Tiduran di kamar Bik.”

“Kasihan non cantikku,” kata bik Sarti sambil mengikuti Damian masuk ke dalam, lalu membawa keranjang buah itu ke dalam kamar. Dilihatnya Raya sedang tiduran. Bau minyak angin menyergap, begitu bik Sarti memasuki kamar.

“Bibik?” sapa Raya dengan gembira.

“Ya ampun Non, sampai begitunya ngidam Non. Muntah terus?”

“Masih terkadang muntah, tapi sudah banyak berkurang, hanya belum suka makan.”

“Non tetap harus makan, nanti bayi Non ikut lapar dong.”

“Masa sih Bik?”

”Iya dong Non. Bayi di dalam perut itu, makannya ikut ibunya. Kalau ibunya lapar, dia juga lapar.”

“Habisnya, takut muntah.”

“Tidak apa-apa walau muntah, memang itu bawaan dari jabang-bayi. Sedikit-sedikit tidak apa-apa.”

“Aku sudah bilang, kalau nggak mau makan juga, akan aku bawa ke rumah sakit, biar di infus,” kata Damian.

“Nggak mau aku, aku mau makan kok. Cuma jangan dipaksa. Itu Bibik bawa apa?”

“Ini buah-buahan Non, ada apel, mangga, jambu, belimbing, pear, pokoknya bermacam buah, Nyonya sendiri yang beli pagi tadi.”

“Ibu ?”

“Iya Non. Non tahu tidak, Nyonya kelihatan senang sekali mendengar non Raya hamil.”

“Benarkah? Kata mas Damian, ketika mendengar hal itu, ibu seperti tidak bereaksi. Tampaknya ibu juga membenci aku,” kata Raya sedih,.

“Tidak ada, orang tua membenci anaknya. Cuma saja, curahan kasih sayang itu bentuknya berbeda-beda. Ada yang kelihatan acuh, tapi dalam hati sangat bahagia. Ketika tuan Damian datang pagi kemarin, lalu mengabarkan tentang kehamilan Non, bibik melihat Nyonya mengusap air mata lhoh. Nyonya menangis. Pasti saking bahagianya,” terang bik Sarti.

“Masa sih Bik?” tanya Raya dan Damian hampir bersamaan.


“Saya tidak bohong Non. Sebenarnya, Nyonya sangat bahagia. Buktinya, tadi pagi-pagi sekali sudah ke pasar untuk membeli buah-buah ini. Non mau yang mana?”

“Aku ingin mangga nya, semoga masih agak masam-masam begitu,” kata Raya.

“Pilih yang masih agak keras, kalau ingin yang masam. Sebenarnya bibik ingin mengupaskan mangganya untuk Non, tapi tadi Nyonya wanti-wanti agar bibik tidak terlalu lama. Sopirnya ditunggu Tuan Rahman di kantor.”

“O, begitu ya Bik. Nggak apa-apa, biar nanti aku yang mengupas untuk Raya, bibik tenang saja.”

“Baiklah, Tuan. Sekarang saya mohon pamit, takut nyonya marah, soalnya tuan Rahman kelihatan sangat sibuk, akhir-akhir ini, bahkan jarang makan siang di rumah. Kata nyonya, di kantor sedang ada masalah.”


“Kasihan bapak ya Dam, kelihatannya orang yang dipercaya bapak telah menyalah gunakan banyak uang perusahaan.”

“Apakah aku bisa membantu ya?”

“Kalau kamu mau, temuilah bapak.”

“Kalau kamu sudah kelihatan sehat dan mau makan banyak, aku akan menemui bapak. Di kantor saja.”

“Aku baik-baik saja. Pergilah kalau mau pergi.”

“Baiklah Non, saya pergi dulu ya, nanti nyonya marah.”

“Iya Bik, bilang sama ibu, kami senang menerima kiriman buahnya. Raya pasti akan melahapnya sampai habis,” kata Damian sambil mengantarkan bik Sarti sampai ke depan.

***

Damian mempergunakan waktu pagi dan siangnya bersama sang istri yang sangat diperhatikannya, sambil belajar demi keinginannya agar segera bisa menyelesaikan kuliahnya. Ia melarang sang istri melakukan apapun, termasuk belanja, memasak dan bersih-bersih rumah. Semuanya Damian yang melakukannya.

Setiap pagi, bik Sarti mengirimkan sayur bening yang berisi sayuran sehat, termasuk sayur daun katuk yang segar. Kata bik Sarti, daun katuk bisa memperbanyak ASI setelah menyusukan anaknya nanti.

“Damian sudah memperingatkannya, tapi bik Sarti mengatakan bahwa semua itu nyonya besar yang memerintahkannya. Raya merasa senang. Barangkali kemarahan dan kebencian ibunya pada Damian sudah berkurang. Raya mengatakannya berkurang, karena sang ibu masih belum mau datang menjenguknya, kecuali hanya mengirimkan buah-buah dan sayur segar demi kesehatan Raya dan bayinya. Karena  itu Damian hanya membelikan lauk matang, berupa ikan, daging dan telur, untuk pelengkap makan sehat bagi istri dan anaknya.

***

Tiga bulan telah berlalu, Raya sudah semakin sehat. Dia sudah doyan makan agak banyak, dan tidak muntah-muntah lagi.

Pagi hari itu Damian dengan motor bututnya, pergi ke kantor pak Rahman. Semua karyawan menatapnya heran, karena laki-laki yang mengaku sebagai menantu pak Rahman itu belum pernah mereka lihat sebelumnya. Namun ketika mendapat perintah dari pak Rahman agar Damian dipersilakan masuk, maka mereka pun mengantarkan Damian ke ruang pak Rahman.

Ketika Damian masuk, dilihatnya pak Rahman sedang bertelpon dengan wajah tegang. Ada hal yang membuatnya terkejut ketika mendengar teriakan pak Rahman.

“Apa? Perusahaan sudah kolaps dan masih punya hutang delapan ratus juta?”

***

Besok lagi ya,

Sebuah Pesan (58)

SEBUAH PESAN  58


(Tien Kumalasari)


 


Begitu melihat Raya dan pak Rahman, Damian segera berdiri, menyalami dan mencium tangan pak Rahman.


“Kamu ada di sini, Dam?”


“Tadi Raya memberi tahu, bahwa akan ke rumah sakit karena ibu dirawat. Kok tiba-tiba dia sudah ada di sini?” kata Raya sambil menatap Damian.


“Setelah kamu menelpon, aku menelpon bik Sarti, rumah sakitnya di mana, soalnya kamu nggak memberi tahu rumah sakitnya.”


“Iya, aku juga belum jelas, soalnya nungguin bapak menjemput. Kamu sudah lama, Dam?”


“Belum, baru saja. Tapi belum sempat bicara sama ibu. Mungkin agak terganggu, karena ada selang oksigen terhubung di hidungnya.


“Ibu, bagaimana keadaan Ibu?” tanga Raya sambil memegang tangan ibunya.


Bu Rahman menoleh, menatap anak gadisnya.


“Mengapa semua orang diberi tahu? Aku tidak mau menyusahkan siapa-siapa,” katanya lirih, tapi jelas ucapan itu ditujukan kepada menantu yang tak disukainya. Padahal bicaranya nggak begitu jelas akibat ada selang oksigen mengganggunya.


“Mengapa Ibu berkata begitu? Kita tidak mengabari siapa-siapa, yang di sini adalah keluarga kita,” kata pak Rahman.


Bu Rahman tak menjawab.


“Pasti semua suka, melihat aku sakit.”


“Bu, tolong endapkan pikiran yang mengganggu hati, nanti Ibu tidak sembuh-sembuh. Orang sakit itu butuh ketenangan jiwa. Pikiran yang jernih dan selalu mohon ampun serta kesembuhan kepada Yang Maha Kuasa.”


Damian sudah berpakaian rapi, Damian bukan lagi tukang kebun keluarga Rahman, dia adalah mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, calon insinyur. Walau begitu tak sedikitpun bu Rahman menatapnya dengan kasih seorang ibu mertua, sementara Damian begitu telaten menghadapi sikap nyinyir yang diperlihatkannya, sejak dia datang, lalu memijit-mijit kakinya. Sapaan dari awal kedatangannya juga tak dijawab, hanya kata ‘hm” Tapi Damian bisa mengendapkan perasaannya, menerimanya dengan sabar. Walau begitu dia tetap saja memijit-mijit kaki ibu mertuanya dengan penuh perhatian.


“Ibu sabar ya, supaya bisa segera sehat,” sambung Raya sambil menggantikan Damian memijit kaki ibunya.


"Belum ada pemeriksaan ya Bu, setelah dipindahkan ke kamar ini?”


“Tadi diambil darahnya, besok mau periksa jantung dan entah apa lagi, aku tidak tahu.”


“Masih terasa sesak?”


“Masih, agak berkurang."


"Ya sudah, Ibu tidur saja, kami akan duduk di sofa itu ya,” kata pak Rahman sambil menarik lengan Damian. Raya masih berdiri di samping ibunya. Tangannya masih memijit-mijit.


“Sudah, tinggalkan saja aku, dipijit malah sakit semua,” katanya mengeluh.


Raya menghela napas, lalu melangkah ke sofa, mendekati Damian dan ayahnya yang sudah lebih dulu duduk di sana.


“Tampaknya ibu tidak suka Raya tungguin.”


“Kamu harus maklum, apalagi badannya sedang tidak enak."


“Iya, Raya mengerti. Apa kata dokter?”


”Belum jelas, dokter yang ke rumah itu baru mengatakan bahwa jantungnya bermasalah. Kita tunggu hasil pemeriksaan besok.


“Ray, kalau kamu mau menemani ibu di sini juga, tidak apa-apa. Kasihan kalau bapak yang menemani,” kata Damian.


“Kamu sendirian di rumah?”


“Aku gampang.”


“Tidak, jangan merepotkan, tidak apa-apa bapak di sini menemani ibu. Sekarang kan bapak tidak begitu mengurusi kantor, jadi hanya sekali-sekali saja bapak ke kantornya.”


“Tapi Bapak nanti capek. Yang tidur di sini menemani ibu, biar Raya saja. Ya kan Raya?” kata Damian.


“Ya, tidak apa-apa. Sekarang kamu mau berangkat kuliah?”


“Iya, sebentar lagi.”


“Kalau begitu makan dulu. Aku mau keluar membeli makanan, sekalian untuk bapak juga,” kata Raya sambil berdiri.


“Biar aku temani," kata Damian mengikuti istrinya.


Pak Rahman menatap punggung anak dan menantunya dengan penuh perasaan haru. Pasangan yang serasi, tampak saling mencintai, dan sinar bahagia selalu ada di wajah mereka. Mengapa sang istri tidak bisa menerimanya? Menurutnya, Damian itu penuh misteri. Ada yang disembunyikannya. Entahlah. Pak Rahman menyandarkan tubuhnya di sofa. Begitu baiknya Damian. Sudah tahu tidak disukai, tapi menaruh perhatian begitu besar kepada ibu mertuanya. Pak Rahman merasa lega, Raya berada di tangan suami yang akan bisa melindunginya. Ia tidak percaya Damian melakukan hal buruk untuk menyenangkan istrinya. Dia begitu santun dan penuh pengertian. Pak Rahman menatap ke ranjang istrinya, yang tergolek dengan asupan oksigen melalui selang. Tampak lemah, tapi alangkah keras hatinya. Sang menantu datang dengan penuh perhatian, tak disapanya juga? Ada rasa sedih menggayuti perasaan pak Rahman. Dengan apa nanti, sang istri bisa luluh hatinya?


***


Pak Rahman berjalan keluar, untuk melonggarkan rasa gundah di dadanya akibat memikirkan kekerasan hati istrinya. Ketika dalam sebuah belokan, tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki yang membawa obat-obatan, dan karena tertabrak itu, maka satu plastik keresek berisi obat terjatuh di tanah.


“Maaf … maaf ya mas, saya tidak sengaja,” kata pak Rahman sambil membantu memunguti obat yang terserak.


“Tidak apa-apa Pak, saya juga tidak melihat jalan.”


“Siapa yang sakit Mas?”


“Istri saya Pak, baru kemarin masuk. Alhamdulilah ada orang baik yang membantu pengobatan istri saya, kalau tidak, mana mungkin saya mampu mengobatkan istri saya yang harus mondok di rumah sakit?”


“Syukur alhamdulillah ada yang menolong ya Pak.”


“Iya, orangnya ganteng, baik hati, padahal sebelumnya saya telah melakukan perbuatan jahat sama dia.”


“Jadi kejahatan dibalas kebaikan, begitu? Mas sangat beruntung.”


“Iya Pak, namanya Damian. Ganteng sekali dan hatinya baik sekali.”


Pak Rahman sudah mau melanjutkan langkahnya, tapi terhenti ketika mendengar nama Damian disebut. Adakah Damian lain yang ganteng dan baik hati?


Pak Rahman menoleh ingin bertanya sesuatu, tapi tiba-tiba dia melihat laki-laki tersebut bertemu Damian dan Raya. Mereka berhenti dan berbincang.


“Lho, mereka kenal? Jadi benar Damian menantuku yang dimaksud?” gumam pak Rahman yang kemudian membalikkan tubuhnya untuk mendekati mereka.


"Lhoh, Bapak kok di sini?” tanya Raya.


“Jalan-jalan saja. Ibumu tidur.”


“Kalian kenal dengan mas nya ini?”


“Iya Pak, ini namanya pak Maksum.”


“Ya dia ini orang baik yang saya ceritakan tadi Pak. Saya sudah berbuat jahat sama dia, tapi dia memberi saya uang lima belas juta untuk mengobati istri saya.”


“Ah, kenapa hal begitu diceritakan?” tegur Damian sungkan, sementara pak Rahman tertegun. Benar-benar luar biasa menantunya ini. Siapa sebenarnya dia? Uang lima belas juta diberikannya begitu saja, itu tidak sembarang orang bisa melakukannya. Jelas Damian orang yang punya uang. Lalu mengapa dia jadi tukang kebun di rumahnya, bahkan almarhum ayahnya juga?


“Tidak apa-apa, Pak. Memang begitu kenyataannya. Pak Damian juga kenal degan bapak ini?”


“Beliau ayah istri saya ini, jadi ayah mertua saya, Pak.”


“Ya ampun, kami kenal karena tadi bertabrakan di tikungan itu. Tidak mengira beliau ayah mertua Pak Damian. Tapi ngomong-ngomong, siapa yang sakit?”


“Ibu mertua saya, Pak. Baru saja masuk. Ini bu Maksum sudah ada di rumah sakit ini?"


“Iya Pak, dan ini semua berkat pak Damian.”


“Jangan begitu Pak, ini campur tangan Allah Yang Maha Pengasih.”


“Ya sudah Pak, mohon maaf, saya buru-buru, ada yang menunggu. Obat ini saya beli di luar karena rumah sakit kehabisan, dan harus segera diberikan,” kata Maksum yang segera berlalu dengan tergesa-gesa.


“Ayo Pak, ini kami sudah bawa makanannya,” kata Raya.


Pak Rahman hanya mengangguk. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam hatinya, tapi tak mampu diucapkannya. Memang benar, Damian penuh misteri.


Tapi sambil berjalan, pak Rahman bertanya tentang kejahatan apa yang dilakukan Maksum kepada Damian, lalu Raya menceritakan semuanya sambil berjalan.  Ia sudah mendengar cerita tentang kejadian itu, tapi baru tahu bahwa itulah orangnya.


“Syukurlah, dia mengakui perbuatannya dan tampak sangat menyesal,” kata pak Rahman yang tidak bertanya tentang uang yang diberikan Damian kepada Maksum.


***


Selama seminggu bu Rahman dirawat di rumah sakit, dan selama itu setiap malam Raya dan Damian menemaninya, baru pulang ke rumah setelah bik Sarti menggantikannya.


Tak banyak yang dibicarakan saat ada di rumah sakit, karena bu Rahman tampak enggan bicara. Paling-paling Raya yang bicara, menanyakan sang ibu ingin apa, merasakan apa, tapi jawabannya sangat tidak menyenangkan. Raya hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kesembuhan ibunya, dan untuk luluhnya hati ibunya sehingga sudi menerima Damian sebagai menantunya.


 Saat di rumah sakit itu Kamila tidak bisa menjenguk ibunya, karena anaknya masih lembut dan belum bisa diajak bepergian jauh. Tapi setiap hari dia menelpon dan menanyakan keadaannya.


Bu Rahman tak banyak bicara saat Kamila menelponnya, karena setiap menelpon selalu ada kata-kata yang menyarankan agar dirinya harus sabar, jangan emosian, dan segala petuah yang biasanya orang tua tak suka kalau mendengar petuah-petuah dari anak atau yang lebih muda. Tidak semua pastinya, tapi bu Rahman ini termasuk yang sedikit keras kepala.


Ketika bicara dengan Raya, Kamila bertanya tentang Hanna.


“Rosa mengeluh kemarin, katanya Hanna pulang ke Jakarta, dan enggan melanjutkan kuliah.”


“Oh ya?”


“Masa Damian tidak cerita?”


“Damian tidak pernah menceritakan tentang Hanna, karena memang beda jurusan dan jarang ketemu.”


“Kata Rosa, dia seperti orang linglung.”


“Linglung bagaimana?”


“Banyak diam, dan sering bengong. Ayahnya sedang membawanya ke dokter syaraf. Apa itu ada hubungannya dengan Damian? Kasih tak sampai, begitu?” canda Kamila.


“Entahlah, kami tidak pernah melakukan apa-apa, walau dia punya niat jahat sama kita. Damian kan tidak pernah dendam kepada siapapun. Kalau aku kesal, dia hanya bilang, biarkan saja, begitu saja.”


“Damian memang luar biasa.”


***


Waktu berjalan begitu cepat. Raya senang salonnya berjalan dengan sangat memuaskan. Dia juga senang, Damian bisa menempuh pendidikannya dengan lancar. Damian bilang, tidak sampai setahun, dia berjanji akan menyelesaikannya.


“Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti? Mencari pekerjaan?”


“Pastinya dong, biar istriku senang, tapi belum aku pikirkan. Sekarang aku sedang memikirkan undangan om ALex.”


“Undangan apa?”


“Om Alex minta kita datang ke Amerika, untuk bertemu dengan kerabat ibuku.”


“Benarkah? Kita akan ke sana?”


“Tentu saja benar, bulan depan aku liburan, kita akan di sana selama sepuluh hari.”


“Wouww… menyenangkan.”


“Besok aku akan mengurus paspor dan yang lainnya, agar pada saatnya nanti kita tidak akan terganggu dengan persyaratan yang harus kita penuhi.”


“Tidak repot kamu mengurusnya sendirian?”


“Ada teman yang akan membantu. Kamu tidak usah khawatir. Pokoknya semua akan beres.”


“Terima kasih Dam, dan karena akan pergi jauh, aku harus pamit pada bapak sama ibu dong.”


“Iya, kalau bapak sama ibu mau, kita bisa mengajaknya serta.”


“Benarkah?” mata Raya berbinar.


“Tentu saja benar.”


“Aku akan ke sana besok. Kalau bapak sama ibu mau, pasti menyenangkan."


Pak Rahman menyambut gembira ketika Raya mengajaknya pergi ke luar negri. Bu Rahman terpana mendengarnya. Seperti mimpi rasanya ketika mendengar Damian mengajaknya ke luar negri. Ada rasa sedikit luluh, tapi ego dan harga dirinya terlalu tinggi. Ia tak menampakkan wajah gembira, dan menerimanya dengan sinar muka datar saja.


“Bu, kalau Ibu mau, Ibu pergi saja bersama Raya dan Damian. Bapak tidak bisa ikut.”


“Kenapa Bapak tidak bisa ikut?” tanya Raya.


“Perusahaan sedang dalam masalah.”


“Masalah apa Pak?”


“Yah, agak rumit sih, tapi ini kesalahan bapak sendiri, yang terlalu percaya kepada orang.”


“Bapak sih, melepaskannya begitu saja.”


“Tadinya Marsono itu baik, dan aku begitu mempercayainya. Tapi setahun terakhir perusahaan mengalami kemunduran, aku memang terlalu ceroboh. Tapi sudahlah, aku rasa aku bisa mengatasinya. Kamu berangkat saja nanti, bersama ibumu.”


“Tidak, aku tidak mau,” kata bu Rahman tiba-tiba.


“Mengapa? Ibu butuh liburan, biar hati senang. Ingat kata dokter.”


“Tidak, aku di rumah saja. Kan Bapak juga tidak pergi?”


“Soalnya bapak sedang ada urusan. Dan ini agak berat.”


“Pokoknya aku tidak akan pergi ke mana-mana.”


“Ya sudah, kalau ibu lebih suka di rumah saja, ya tidak apa-apa. Nanti Ibu mau oleh-oleh apa?”


“Tidak usah. Ibu tidak ingin apa-apa.”


Raya lagi-lagi menghela napas. Ibunya memang agak keras kepala.


***


Raya begitu gembira dan bahagia, karena keluarga Damian di Amerika semuanya baik dan menerima kedatangannya dengan begitu ramah. Sepuluh hari di sana, dihabiskan dengan mengunjungi tempat-tempat indah yang belum pernah dilihatnya. Damian bahagia melihat sang istri begitu riang setiap mengunjungi tempat-tempat indah. Tapi sepuluh hari telah habis. Damian dan Raya banyak membeli oleh-oleh, untuk pak Rahman dan bu Rahman, untuk Agus dan keluarganya, dan tidak lupa untuk bik Sarti yang selalu mendukungnya.


Tapi di pesawat menuju pulang itu, Damian terkejut melihat Raya mengeluh pusing dan mual. Ia bahkan sempat muntah-muntah, padahal tak biasanya Raya mabuk.


***


Besok lagi ya.

Sebuah Pesan (57)

SEBUAH PESAN  57


(Tien Kumalasari)


 


Bu Rahman masih memegang ponselnya, dan masih meletakkannya di depan telinganya. Ia mendengar teman arisannya masih berkata-kata, tapi dia tidak meresponnya. Sang teman memuji-muji salon milik Raya dengan penuh kekaguman.


“Masih baru, tapi pelanggannya sudah banyak. Soalnya kata mereka, Raya selalu ramah kepada semua pelanggan, dan setiap sore suaminya juga ada di salon itu, berbincang dengan para karyawannya dengan hangat dan menyenangkan. Mbakyu juga tidak mengundang ketika mereka menikah sih, kata para karyawan salon, suami Raya ganteng sekali dan sangat royal. Sering memborong bakso keliling, untuk para karyawan dan pelanggan yang kebetulan masih ada di salon.”


Bu Lusia panjang lebar mengoceh, Bu Rahman mendengarkan sambil merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Uang siapa yang dipergunakan untuk mendirikan salon? Butuh modal yang bukan main untuk itu semua.


“Mbakyu, Mbakyu masih di situ? Kok diam saja aku mengoceh tidak karuan?”


“Oh, eh … iya, sebenarnya aku ini sedang sakit, ini lagi digosokin minyak angin oleh pembantu aku.”


“Mbakyu sakit? Ya sudah, maaf kalau begitu. Aku mengganggu ya? Cepat sembuh ya, minggu depan kita ketemuan kan?”


Bu Rahman juga tidak menjawab ucapan terakhirnya. Matanya nanar menatap langit-langit kamar.


“Ini sudah rata, Nyonya, mau dipijit sekalian?”


“Boleh, sebentar saja, aku ingin segera tidur.”


“Baiklah.”


“Jadi salon itu milik Raya …” gumamnya perlahan.


“Tuh, benar kan kata saya? Namanya juga salon Raya. Pasti punya non Raya. Nyonya harus senang dong.”


“Tidak, aku justru sedih.”


“Mengapa Nyonya? Non Raya jadi pengusaha salon, bukankah itu menyenangkan?”


“Coba kamu pikir Sar. Mendirikan salon itu butuh uang yang bukan main banyaknya. Dari mana Raya mendapatkannya? Kalau hanya tabungan Raya, untuk beli salah satu alat pengering rambut saja tidak akan cukup.”


“Pastinya tuan Damian yang membelikannya, membiayai semuanya.”


“Nah, Damian kan? Tidakkah kamu berpikir, dari mana uangnya? Aku yakin Damian berhutang ke mana-mana, membuat Raya ikut menanggungnya.”


“Nyonya, kalau benar berhutang, orang yang punya uang itu tidak sembarang mau menghutangkan kepada sembarang orang lhoh.”


“Biarpun reyot, kan dia punya rumah?”


“Nyonya, kalau boleh saya bicara, sebaiknya Nyonya tidak terlalu banyak memikirkan non Raya. Saya kira non Raya sudah hidup tenang dan bahagia. Kalau Nyonya terlalu banyak pikiran, akibatnya Nyonya bisa sakit.”


Dan bu Rahman sadar, bahwa sekarang dadanya bertambah sakit. Seperti ada yang menindihnya. Bik Sarti khawatir, melihat wajah nyonya majikannya seperti menahan sakit.


“Nyonya, saya akan menelpon tuan ya?”


“Tidak, gosok lagi saja, di sini, di dada kiri ini,” keluhnya.


Bik Sarti menggosoknya lagi. Perasaan khawatir mulai mengganggu dirinya.


“Saya ambilkan minuman hangat ya Nyonya,” kata bik Sarti tanpa menunggu jawaban nyonya majikannya, langsung keluar kamar. Ia menuju dapur untuk membuat teh hangat, tapi ia juga sambil meraih ponselnya, dan menelpon tuan Rahman, dan mengatakan bahwa sang istri sakit.


Bik Sarti membawa masuk teh hangatnya ke dalam kamar, dan meminta agar sang Nyonya meneguknya perlahan.


“Sudah, tinggalkan saja aku, tolong selimuti aku, lalu kamu boleh pergi,” kata bu Rahman sambil memejamkan mata.


Bik Sarti keluar dengan perasaan khawatir. Ia berharap tuan majikannya segera pulang dan memastikan, apakah istrinya akan dibawa ke rumah sakit, atau memanggil dokter.


***


Belum begitu siang, Maksum masih menunggu dagangannya. Ada perasaan bersyukur ketika seorang yang baik hati memberikannya uang untuk berobat istrinya. Ia berjanji, setelah dagangannya habis, akan membawa sang istri ke rumah sakit.


“Semoga dengan ini, istriku akan kembali pulih,” gumamnya.


Dagangan tinggal sedikit. Maksum bermaksud menutup warungnya dan segera mempersiapkan sang istri untuk dibawa ke rumah sakit.


Tapi belum selesai dia berkemas, sebuah mobil berhenti. Maksum berdebar. Ia seperti mengenal mobil itu. Seorang wanita turun dengan wajah masam. Maksum segera tahu, dia adalah Hanna. Pasti dia akan memarahinya karena pasti maksud jahatnya gagal total setelah dia mengatakan semua perbuatannya kepada Ani.


“Jangan tutup dulu!” hardik Hanna.


Maksum berhenti berkemas. Sekarang dia berhadapan dengan wanita yang membuatnya terjerumus ke dalam aksi kejahatan.  Tapi keberanian tiba-tiba saja muncul. Ia sudah mempersiapkan jawaban kalau wanita cantik itu marah-marah.


“Kamu tahu, mengapa aku datang kemari? Kamu tahu bahwa aku sangat marah sama kamu,” hardiknya.


“Ya, maaf Non.”


“Kamu sadar kesalahan apa yang kamu lakukan, bodoh?! Mengapa kamu mengatakan semuanya kepada orang lain, sementara aku sudah membayar mahal untuk kamu?”


“Saya minta maaf. Saya berterus terang, karena gadis yang tadinya saya foto itu melihat saya dan mencurigai saya. Dari pada memikul beban, lebih baik saya berterus terang.”


“Bodoh! Dan aku menanggung malu karenanya. Bukan hanya itu, semuanya jadi barantakan. Keinginanku gagal total.”


Maksum diam.


“Sekarang kembalikan uang aku,” katanya sambil  menadahkan sebelah tangannya ke arah wajah Maksum.


“Apa?”


“Kembalikan uang aku. Aku nggak mau rugi. Kalau berhasil sih, berapapun uang yang kamu minta pasti aku berikan. Tapi ini gagal total dan membuat aku sangat malu karena ketahuan.”


Maksum terkejut. Tapi ia ingat membawa uang pemberian Damian. Lebih baik uang itu dikembalikan, dari pada dia terbebani dengan dosa yang telah diperbuatnya.


Maksum membuka keresek yang sudah diikat, lalu mengambil uang dari keresek itu, sebanyak dua juta. Uang itu diulurkannya kepada Hanna dengan wajah penuh kesal.


“Ini uang non Hanna, saya bersyukur bisa mengembalikannya. Semoga dengan demikian saya tidak lagi terbebani oleh dosa Sampeyan.”


Hanna terkejut. Ia tak mengira Maksum benar-benar bisa mengembalikan uangnya. Hanna menerimanya, dan menghitungnya. Sudah benar, dua juta.


Lalu maksum melanjutkan membenahi sisa dagangannya. Merapikan bangku bekas dia berjualan, dan karena sibuknya, ia bahkan tak tahu, wanita bernama Hanna itu sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.


***


Dengan penuh harapan, Maksum membawa sang istri ke rumah sakit. Sungguh ia bersyukur karena ketemu orang sebaik Damian. Orang yang menjadi korbannya.


“Bu, ayo ke rumah sakit. Ada orang baik yang akan membiayai pengobatan kamu.”


Bu Maksum yang tak berdaya, hanya bisa mengangguk. Maksum menyiapkan baju bersih untuk istrinya, lalu memanggil taksi.


Sang istri yang sebenarnya heran karena sang suami tampak gagah dengan akan membawanya ke rumah sakit. Tapi ia tak bisa menanyakan apapun.  Obat yang diminum belum sepenuhnya membuatnya pulih,. Mulutnya masih perot, dan tidak bisa bicara, karenanya dia menurut saja ketika sang suami mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam sebuah taksi.


***


Pak Rahman sudah memanggil dokter, begitu dia sampai di rumah dan melihat keadaan sang istri.


Tapi rupanya dokter menyarankan agar bu Rahman dibawa saja ke rumah sakit. Ada pemeriksaan yang harus dijalaninya, karena sang dokter menghawatirkan jantung bu Rahman  yang tampaknya bermasalah.


Jadi, mau tak mau bu Rahman harus dibawa ke rumah sakit.


“Ya ampun Pak, aku mau dirawat di rumah saja, aku kan tidak sakit berat, hanya merasa sesak sedikit, tadi sudah digosok minyak angin sama Sarti, sebentar lagi sudah pasti sembuh.”


“Ibu itu bukan anak kecil lagi, jadi tolong turuti nasehat dokter. Sopir sudah aku suruh menyiapkan mobilnya, ayo  bersiap. Perlu ganti baju tidak?”


“Mana aku kerasan tidur di rumah sakit.”


“Ya tidak ada orang yang kerasan tidur di rumah sakit. Tapi ada beberapa pemeriksaan yang harus Ibu jalani, sehingga jelas penyakitnya, jelas pula pengobatannya."


Bu Rahman bangkit, dan perlahan mencari baju di almari, pak Rahman membantunya.


“Kamu itu jangan banyak pikiran. Hal yang seharusnya kamu lepaskan, ya sudah lepaskan saja. Urus saja apa yang menjadi urusan kamu.,” omel pak Rahman.


“Namanya juga anak. Tetep saja orang tua kepikiran.”


“Memangnya mereka itu ada apa? Hidupnya tenteram, bahagia. Apa yang ibu susahkan? Aku kan sudah bilang, kalau ibu terus-terusan membebani pikiran dengan hal yang seharusnya tidak ibu pikirkan, nanti ibu akan sakit. Hati tak puas, tubuh akan menjadi sakit. Percayalah.”


Bu Rahman diam. Perlahan mengganti bajunya, karena memang dia merasa lemah. Dan dalam melangkah ke luar rumah untuk menghampiri mobil yang sudah menunggu saja, pak Rahman harus menuntunnya.


***


Raya sedang berada di salon, dan kebetulan sedang ada pelanggan yang harus dilayani ketiga karyawannya, ketika ponsel Raya berdering.


Raya mengangkatnya, ternyata dari bapaknya.


“Bapak? Ada apa Pak?”


“Kamu lagi di mana?”


“Di salon.”


“Bisa kah kamu minta ijin sebentar? Bapak akan menjemput kamu segera.”


“Bisa Pak, Bapak mau mengajak ke mana?”


“Ibumu ada di rumah sakit.”


Raya terkejut.


“Ibu sakit? Sakit apa?”


“Baru saja masuk, kata dokter yang tadi aku panggil ke rumah, ada masalah dengan jantungnya. Tapi harus diperiksa secara lengkap di rumah sakit.”


“Baik Pak, saya akan ke sana. Rumah sakit mana?”


“Kamu tunggu bapak saja, sekalian bapak pulang untuk mengambil baju ganti ibumu.”


“Oh, baiklah, Raya akan menunggu.”


Raya berpesan kepada para karyawannya, bahwa dia akan pergi ke rumah sakit. Ia sedang ke belakang ketika pak Rahman masuk ke dalam salon.


“Selamat siang,” sapa pak Rahman.


“Selamat siang Pak, maaf, ini salon khusus untuk wanita, jadi_”


“Iya, saya tahu kok. Saya akan menjemput karyawan yang bernama Raya.”


Karyawan yang mendengar saling pandang, karena Raya disebutnya karyawan. Ia tidak tahu siapa yang datang sebenarnya.


“Pak, ibu Raya bukan karyawan. Dia pemilik salon ini,” kata salah seorang karyawan sambil menghentikan kegiatannya.


Pak Rahman terkejut. Ia belum mendengar bahwa salon itu milik Raya. Menurut sang istri, Raya bekerja di salon yang namanya Salon Raya.


Pak Rahman ingin menjawab, ketika Raya tiba-tiba sudah keluar.


“Bapak sudah menjemput, ayo kita pergi. Aku pergi dulu ya Mbak,.. ini, ayah saya sudah menjemput,” katanya kemudian kepada karyawannya.


Pak Rahman ingin mengatakan sesuatu, tapi Raya segera menariknya keluar. Ia ingin segera tahu keadaan ibunya.


Tapi sepeninggal Raya dan ayahnya, para karyawan kasak kusuk karena heran. Mengapa ayahnya sendiri tidak tahu bahwa Raya adalah pemilik salon, bahkan ayahnya mengira Raya adalah karyawan.


“Berarti ibu Raya tidak berterus terang kepada orang tuanya bahwa dia pemilik salon ini, dan mengaku hanya sebagai karyawan,” kata salah satunya.


“Iya, kenapa ya, bu Raya?”


Tapi kasak kusuk itu berhenti karena ada pelanggan lain yang datang.


***


Pak Rahman nyamperin Raya dulu sebelum pulang untuk mengambil baju istrinya. Ia melakukannya, karena tiba-tiba sopirnya pamit karena istrinya mau melahirkan.


“Ray, bapak terkejut ketika mendengar bahwa kamulah pemilik salon itu.”


“Maaf, Pak. Saya memang belum mengatakan semuanya pada Bapak ataupun ibu.”


“Ibumu khawatir dengan keadaan ini.”


“Apa yang ibu khawatirkan?”


“Banyak hal tentang kamu dan Damian. Damian kuliah, lalu kalian bisa ke Jakarta pulang pergi dengan naik pesawat, dan sekarang ternyata kamu memiliki salon kecantikan.”


“Apa yang ibu khawatirkan?" Raya mengulangi pertanyaannya.


“Ibumu selalu menganggap, dari mana Damian mendapat duit segitu banyak. Ibumu khawatir uang itu didapat dari meminjam, atau menggadaikan rumah, atau apalah, karena setahu kami, Damian kan tidak punya apa-apa. Wajar saja kalau orang tua khawatir, hanya saja, ibumu memang agak berlebihan.”


“Raya tahu, ibu mengira kami mendapatkan uang dari sesuatu yang tidak wajar, tidak terpuji, atau apalah, pokoknya nggak ada bagus-bagusnya.”


“Bapak tidak sepenuhnya menyalahkan ibumu, walau terkadang menjengkelkan. Mengapa kamu tidak berterus terang saja tentang semua itu, supaya orang tua tidak khawatir.”


Raya menghela napas.


“Raya mengerti, apa yang dikatakan ibu itu, terbawa oleh rasa tidak sukanya kepada Damian.”


“Benar.”


“Dan itu sebabnya Damian tidak ingin berterus terang tentang uang itu. Tapi Bapak harus percaya, bahwa Damian tidak akan melakukan hal yang buruk, yang menyimpang dari kebenaran. Damian orang baik, yang tidak ingin menyombongkan diri atas apa yang bisa dilakukannya. Pada suatu hari nanti, Damian pasti akan mengatakannya.”


“Bapak mengerti.”


Mobil pak Rahman berhenti di halaman rumahnya, dan bik Sarti yang sudah mendapat perintah untuk menyiapkan baju ganti untuk bu Rahman, sudah menyiapkannya di teras, dalam sebuah kopor kecil.


***


Ketika pak Rahman dan Raya sampai di rumah sakit, segera bergegas ke ruang rawat, dimana bu Rahman ditinggalkannya seorang diri.


Tapi betapa terkejut mereka, ketika melihat bu Rahman tidak sendiri. Ada Damian di samping tempat tidurnya, sedang memijit kakinya, sedangkan bu Rahman memalingkan muka.


***


Besok lagi ya.

Sebuah Pesan (56)

SEBUAH PESAN  56


(Tien Kumalasari)


 


Raya masih terus mendengarkan apa yang Ani katakan, dan membuatnya terus terpana. Ani menceritakan semuanya, menceritakan apa yang dibicarakannya dengan laki-laki yang sampai sekarang dia lupa tidak menanyakan siapa namanya.


“Ya Tuhan, Hanna … begitu jahatnya dia, sementara aku ingin berbaik-baik padanya, walau aku tahu dia menyukai suamiku,” gumam Raya.


“Ibu tadi mengatakan tentang foto itu?” tanya Damian setelah Raya memberikan kembali ponselnya.


“Iya, aku hampir tersulut emosi. Maaf Dam. Aku tahu kamu tak seburuk itu.”


"Raya, bagaimana keputusan kamu? Sudah kamu katakan semua pada suami kamu?” tiba-tiba bu Rahman muncul di depan pintu.


Raya menoleh ke arah ibunya, menggelengkan kepalanya.


“Tidak Bu, mas Damian suami yang baik, dia tidak menghianati Raya, kami akan terus bersatu dan saling mencintai.”


“Ya ampun Raya! Kamu gampang sekali terbujuk oleh rayuan dia. Bahkan bukti nyata yang kamu lihat tidak juga bisa merubah kebodohan kamu?” kata bu Rahman dengan nada tinggi.


"Foto itu rekayasa yang dibuat Hanna, untuk memisahkan kami Bu.”


“Apa kataku tadi. Ada orang yang ingin merusak hubungan dan rumah tangga Raya bersama Damian,” tiba-tiba saja pak Rahman muncul. Barangkali kesal dengan nada tinggi yang diperdengarkan istrinya.


“Aku tidak mengerti, sungguh aku tidak mengerti,” bu Rahman memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


“Hanna menyuruh orang untuk membuat foto-foto saat Damian bersama teman kuliahnya. Itu foto bukan saat mereka berpelukan. Ani hampir jatuh ketika bertabrakan di depan pintu kelas, lalu mas  Damian menahan tubuhnya dengan memegangi pundaknya. Ibu lihat buku berserakan di bawah bukan? Buku-buku itu terjatuh ketika mereka hampir bertabrakan,” terang Raya.


“Itu alasan yang dibuat suami kamu kan?”


“Bukan. Ani bertemu dengan orang suruhan Hanna, yang menceritakan semuanya. Apa perlu kami membawa orang itu ke hadapan Ibu supaya Ibu percaya?” tantang Raya yang kesal melihat sikap ibunya.


“Sudah … sudah, tidak usah membawa siapa-siapa untuk membuktikannya. Bikin malu saja. Ya sudah, sekarang kalian pulanglah,” perintah pak Rahman.


“Damian juga dikirimi foto seperti itu di ponselnya. Ibu mau lihat?” Raya mengambil lagi ponsel Damian, menunjukkan foto serupa kepada ibunya. Bu Rahman hanya melirik sekilas.


“Bagaimana Bu, apakah kami harus mencari orang itu, atau membawa Hanna kemari?”


“Tidak Ray, sudah. Kalian pulang saja, jangan memperpanjang masalah yang memang dibuat oleh orang lain untuk memisahkan kalian. Teruslah hidup rukun, semoga kalian selalu bahagia,” kata pak Rahman dengan sabar.


Bu Rahman membalikkan tubuhnya, masuk ke dalam rumah. Berbagai perasaan memenuhi dadanya. Mungkin saja malu, atau kecewa karena harapan yang tadinya muncul, sirna tiba-tiba. Harapan untuk memisahkan Raya dan Damian, yang dianggapnya telah mengecewakannya.


“Ya sudah Dam, ayo kita pulang,” ajak Raya sambil berdiri, kemudian menarik tangan suaminya.


Keduanya menyelami tangan pak Rahman. Raya mencari-cari ibunya yang sudah tak kelihatan lagi.


“Sudah, biarkan saja ibumu, nanti aku yang akan bilang bahwa kalian sudah pulang. Barangkali memerlukan waktu untuk menenangkannya,” kata pak Rahman sambil menepuk bahu Damian.


***


Hari minggu siang itu Damian dan Raya duduk santai di rumah. Kalau hari Minggu, Raya juga tidak ke salon, meskipun salon tetap buka. Masing-masing merenungkan apa saja yang menimpa mereka, sejak pernikahan sampai bisa membentuk sebuah keluarga yang tenang dan saling pengertian.


Segala cobaan hinaan bahkan sindiran menyakitkan, dan caci maki yang mereka terima, terasa lebih menguatkan mereka untuk tetap berangkulan erat dalam mengayuh kehidupan.


“Apa yang kamu pikirkan Dam?” tanya Raya.


“Aku ingin mencari orang suruhan Hanna.”


"Mau kau apakan dia? Dia hanya orang tak punya yang tertarik melakukan apa yang Hanna suruh, karena dia butuh uang.”


“Tidak akan aku apa-apakan, hanya ingin ketemu saja."


“Aku ikut. Aku tak mau kalau sampai kamu menghajarnya karena kemarahan kamu. Bukan dia yang bersalah, bukan?”


“Benar, bukan dia yang bersalah.”


“Lalu apa?”


“Dia kan hanya penjual gorengan, sementara sekarang istrinya sakit. Dari mana dia dapat uang? Laki-laki itu hanya tukang bersih-bersih atau apa lah, kalau ada tetangga membutuhkan tenaganya.”


“Lalu ….”


“Akan kita beri dia uang.”


“Dam, itu benar?” mata Raya berbinar. Suaminya begitu sempurna. Dia ganteng, baik, sabar, penuh kasih sayang., Bukan hanya kepada dirinya, tapi juga kepada orang lain, dan peduli kepada penderitaan orang.


“Tentu saja. Kalau mau besok pagi saja, sebelum aku berangkat kerja.”


“Nggak apa-apa, aku ke salon agak siangan.”


***


Ternyata pada pagi keesokan harinya, penjual gorengan itu tetap ada. Damian ingat laki-laki itu, yang menagih uang tagihan ke rumah Hanna.


“Mau gorengannya dong. Dua puluh ribu,” kata Damian tiba-tiba, mengejutkan laki-laki itu.


Melihat Damian, dia tampak terkejut dan ketakutan.


“Mengapa Bapak menatap saya seperti itu? Apa menurut Bapak, saya ini hantu?” canda Damian.


Tukang gorengan itu sudah mengatakannya kepada Ani, dan dia yakin bahwa laki-laki ganteng yang menjadi salah satu ‘korbannya’ juga sudah diberi tahu.


 “Saya … saya minta maaf … sungguh saya menyesal …” ucapannya mirip sebuah rintihan, membuat Damian dan Raya merasa iba.


“Mengapa Bapak minta maaf, kami hanya ingin membeli gorengan. Ini uangnya,” kata Damian sambil memberikan uang dua puluh ribu.


“Saya mau yang pisang, sama tahu isi, sama ubi jalar,” kata Raya.


“Nama Bapak siapa?”


“Ss … saya … Maksum.”


“Oh, Pak Maksum ya? Baiklah, itu tadi, pesanan istri saya, dan itu uangnya.”


Maksum mengambilkan gorengan yang dipesan dengan tangan gemetar. Ia membayangkan, setelah dia melayani pesanannya, barangkali laki-laki ganteng itu akan menghajarnya.


“Nama saya Damian, dan ini istri saya, Raya.”


“Oh, iy … iya …” kata Maksum, masih dengan tangan gemetar.


“Mengapa Sampeyan yang jual gorengan? Biasanya istri Sampeyan kan?”


“Ya itulah, istri saya masih belum sembuh juga. Saya merasa, ini akibat dari perbuatan saya. Saya sangat bodoh, mengilar uang dua juta yang belum pernah saya pegang, tapi imbasnya adalah istri saya sakit. Harusnya dia dirawat, tapi saya tidak kuat membayarnya. Kalau nanti pak Damian menghajar saya, saya tidak lagi bisa jualan. Kami akan kelaparan,” kata Maksum sambil membungkus gorengan pesanan Raya.


Damian tertawa.


“Apa Pak Maksum mengira bahwa saya akan menghajar Pak Maksum?”


“Saya sudah bersalah. Dosa saya besar.”


“Pak Maksum tahu? Hanna itu ingin agar saya bertengkar dengan istri saya, bahkan mengharap kami akan bercerai. Tapi Bapak lihat, kami baik-baik saja kan?”


“Iyy … ya. Orang baik dilindungi Allah. Orang jahat mendapat hukuman.”


“Itu bukan hukuman, tapi peringatan, agar kita tahu apa yang salah dalam apa yang kita lakukan.”


Maksum mengangguk. Perlahan rasa takutnya hilang, melihat sikap Damian dan istrinya yang sangat manis.


“Bawalah istri Bapak ke rumah sakit, supaya segera bisa disembuhkan. Karena penanganan di rumah sakit lebih baik dari pada dirawat sendiri di rumah.”


“Mana mungkin saya membawa istri saya agar dirawat?” kata Maksum sambil tersenyum pahit.


“Bawa saja, dari pada sakitnya terlalu lama. Ini uang untuk berobat,” kata Damian sambil memberikan uang sebanyak limabelas juta.


Maksum gemetar menerimanya.


“Ti … tidak … ini tidak mungkin … saya … saya …”


Lalu Maksum mengucapkan terima kasih berkali-kali.


“Kalau masih kurang, carilah istri saya di salon Raya, saya beri alamatnya nanti,” lanjut Damian sambil meraih tangan istrinya, diajaknya pergi. Tak sampai hati dia melihat kesedihan di mata Maksum, dan ucapan terima kasih yang diucapkannya bertubi-tubi.


***


 Sore hari, bu Rahman melamun di teras, memikirkan kegagalannya memisahkan Raya dan Damian. Lalu ia merasa, terkadang dirinya keterlaluan.  Tapi kemudian disusul oleh perasaan tak puas. Betapa gundah dan tak tenteramnya hatinya, ketika mengentaskan anak bungsunya. Tidak seperti ketika menikahkan Kamila dan Abi, yang begitu terlepas dan mapan, maka puaslah hatinya.


Mengapa Raya ini berbeda? Mengapa pilihannya sangat mengganggu hidupnya? Bu Rahman menyandarkan kepalanya di kursi teras. Ia merasa sangat pusing.


Lalu tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di halaman. Bu Rahman mengira mobil suaminya, ternyata bukan.


Bu Rahman melongok ke halaman, menunggu siapa yang datang.


“Tante.” sebuah teriakan terdengar. Bu Rahman menghela napas panjang. Ternyata Hanna. Ia masih ingat penuturan Raya kemarin, bahwa Hanna lah yang menyuruh seseorang untuk membuat foto Damian dan teman wanitaya.


Bu Rahman bergeming, tetap duduk di kursinya.


“Tante sedang apa?”


Sesungguhnya Hanna ingin tahu, bagaimana reaksi keluarga Raya setelah menerima foto yang dikirimkannya melalui Maksum. Tapi ia pura-pura tidak mengerti., dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa. Ia duduk di depan bu Rahman, meletakkan sebungkus kue-kue yang dibelinya di jalan.


“Tanta, saya bawa kue-kue. Enak nih, Tante pasti suka,” katanya sambil tersenyum. Bu Rahman hanya menatap bungkusan itu sekilas.


“Tante, mengapa Tante seperti sangat bersedih? Apa yang sedang tante pikirkan? Saya dengar mbak Mila telah melahirkan. Pasti senang dong. Cucu selalu membuat orang tua senang. Tapi terkadang memang ada saja yang membuat kecewa. Semoga tante bahagia dengan kedua putri tante yang sudah menikah. Ya kan Tante?”


Bu Rahman menatap Hanna dengan perasaan tidak senang. Ia merasa Hanna telah mempermalukannya.


“Mengapa kamu begitu ceroboh?” katanya sengit.


Hanna terkejut. Mengapa sikap bu Rahman seperti sangat tidak bersahabat.


“Maksud Tante?”


“Kamu menyuruh orang yang tidak berguna. Kamu membuat foto yang akhirnya hanya mempermalukan saya.”


Degg.


Hanna tersentak. Rupanya bu Rahman sedang berbicara tentang foto yang dikirimkannya. Bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya yang berbuat? Siapa mengatakannya? Apa Maksum membocorkan semuanya pada bu Rahman? Mengapa mempermalukannya? Apa Damian dan Raya mengerti semuanya, dan bahkan tahu bahwa  dirinya yang melakukannya? Celaka kalau begitu.


“Tante, mengapa Tante mengatakan bahwa Hanna adalah_”


“Kamu menyuruh orang, dan orang itu mengatakannya kepada orang yang kamu fitnah. Kamu ceroboh dan bodoh!”


“Yaaah, benarkah?”


“Kamu bodoh, menyuruh orang sembarangan.”  omel bu Rahman.


Kata-kata bu Rahman itu menunjukkan bahwa sebenarnya bu Rahman mendukungnya, hanya saja menganggap dirinya ceroboh, karena rencana yang seharusnya sudah jadi itu ternyata bocor.


“Jadi benar kan, kamu yang menyuruh orang itu?”


“Iya, Tante. Maaf. Bocor ya? Jadi Damian dan Raya sudah tahu?”


“Sudah tahu, jadi kamu tanggung sendiri saja akibatnya.”


Hanna pulang dengan perasaan tak menentu. Alangkah malu ketika Damian sama Raya sampai tahu. Masih adakah muka untuk bertemu mereka?


***


Hari itu setelah pak Rahman berangkat ke kantor, bu Rahman memanggil bik Sarti ke kamarnya. Bu Rahman tampak terbaring di ranjang dengan wajah pucat.


“Ada apa Nyonya? Nyonya sakit?”


“Tolong minyak angin di atas meja itu Sarti,” katanya sambil menunjuk ke arah meja. Bik Sarti mengambilnya, kemudian mendekat ke ranjang. Ia sudah tahu kalau sang nyonya majikan minta di pijit.


“Dipijit Nyonya, tapi saya belum masak.”


“Tidak apa-apa, nggak usah dipijit, tolong gosok dada dan punggungku. Rasanya kok seperti sesak sekali untuk bernapas.”


“Nyonya terlalu banyak pikiran,” kata bik Sarti sambil membuka baju nyonya majikannya. Ia memegangnya dan merasa panas.


“Badan Nyonya panas sekali.”


“Tidak panas, aku hanya merasa sesak saja. Cepat gosok dan jangan banyak komentar,” cela bu Rahman sambil menelungkupkan badannya.


Bik Sarti menggosok seluruh punggungnya.


“Agak ditekan Sar, seperti kalau memijit itu.”


“Katanya sesak, nanti tambah sesak?”


“Tidak usah terlalu keras. Na, begitu. Sekarang bagian dada,” kata bu Rahman sambil tertelentang.


“Nyonya ini benar-senar sakit. Apa saya harus menelpon tuan?”


“Jangan, tidak usah. Nanti setelah digosok kan merasa hangat, lalu sembuh.”


Tiba-tiba ponsel bu Rahman berdering.


“Dari siapa itu.”


“Nggak usah diangkat ya Nyonya, nanti Nyonya terganggu.”


“Eeh, diangkat saja, siapa tahu penting.”


Bu Rahman meraih ponselnya, sementara bik Sarti terus menggosok dada, bahkan sampai ke ulu hati dan perutnya.


“Hallo, jeng Lusia? Ada apa jeng?” sapa bu Rahman setelah membuka ponselnya.


“Saya hanya ingin memarahi mbakyu.”


“Memangnya kenapa?”


“Ternyata Raya punya salon kecantikan, kalau tahu begitu saya pasti ke situ terus.”


“Apa?”


“Saya tadi coba-coba mampir ke situ, ini Mbak, hanya ingin membersihkan muka. Ada salon Raya, saya kok baru tahu. Ramainya bukan main, dan pelayanannya bagus. Saya sangat cocok Mbak. Lha ternyata itu milik Raya, Mbakyu kok nggak pernah bilang. Tahu begitu dari kemarin-kemarin saya ke situ."


“Oh, Raya kan hanya karyawan disitu.”


“Mbakyu ini suka merendah. Semua karyawan bilang kalau salon itu miliknya Raya, bagaimana sih.”


Bu Rahman tertegun. Salon itu milik Raya? Ia tiba-tiba merasa bahwa dadanya semakin sesak.


***


Besok lagi ya.

Arsip Post

Kau Tetap Ku Sayang

Kau Tetap Ku Sayang ~ Ali Assegaf  *Kau Tetap Kusayang* Evie Tamala Dinyanyikan oleh : *Ali Assegaf* (Nur Ali Muntari)   Bukan aku kejam Ata...